Latest Post

Audit Manajemen Strategis Eksternal

Audit Manajemen Strategis Eksternal
Pada bagian ini akan diuraikan beberapa hal yang terkait dengan proses pelaksanaan penilaian eksternal dalam proses pengambilan keputusan stratejik yang biasa disebut audit ekternal atau pemindaian lingkungan (enviromental ekternal). Audit ekte rnal berfokus pada upaya identifikasi dan evaluasi tren dan kejaidan  yang berada diluar kendali sebuah perusahaan.
Tujuan audit ekternal adalah untuk mengembangkan sebuah daftar terbatas  dari peluang yang dapat menguntungkan sebuah perusahaan dan ancaman yang harus di hindari. Jadi audit Ekternal tidak  bertujuan untuk mengembangkan  sebbuah daftar lengkap  dan menyeluruh dari setiap faktor yang mempengaruhi bisnis  melainkan untuk menawarkan beberapa variabel yang perlu mendapat respon dengan segera. Perusahaan harus mampu merespon baik secara opensif maupun defensif terhadap berbagai faktor tersebut dengan merumuskan strategi untuk dapat mengambil keuntungan daripeluang eksternal atau meminimalkan dampak ekternal.
Menjalankan audit manajemen strategis eksternal
Proses melakukan audit ekternal harus melibatkan sebanyak mungkin manajer dan karyawan agar dapat mengarahkan komitmen dan pemahaman yang sama dalam proses manajemen strategis. Untuk melakukan audit ekternal terlebih dahulu harus mengumpulkan intelejen kompetitif dan informasi mengenai berbagai tren ekonomi, sosial, budaya, demografi, lingkungan, politik, pemerintahan, hukum dan tekhnologi. Orang dapat diminta untuk memonitoring  beragam sumber informasi seperti jurnal, majalah dan surat kabar penting. Setelah terkumpul termasuk informasi melalui internet sebagai pemasok informasi tercepat dan penting kemudian dilakukan penyesuaian dan evaluasi melalui rapat untuk mengidentifikasi peluang  dan ancaman terpenting yang dihadapi perusahaan. Dilakukan pemeringkatan skala prioritas dalam bentuk daftar mulia dari yang paling signifikan sampai pada urutan yangtidak signifikan.
Freud menekankan identifikasi pada faktor-faktor eksternal tersebut harus (1) penting untuk mencapai tujuan jangka panjang dan tahunan, (2) terukur, (3) bisa diterapkan untuk semua perusahaan saingan dan (4) hierarkis. Daftar akhir dari faktor-faktor ekternal yang paling penting harus dikomunikasikan dan disdistribusikan secara luas dalam organisasi. Baik peluang maupun ancaman dapat menjadi faktor ekternal utama.
10 kekuatan  ekternal utama yang memengarui organisasi
Terdapat 10 kekuatan ekternal yang mempengaruhi suatu organisasi yaitu:
Kekuatan Ekonomi.
Faktor ekonomi memiliki dampak langsung terhadap daya tarik potensial dari beragam strategi. Beberapa variabel yang sering kali mempresentasikan peluang dan ancaman bagi organisasi di Amerika Serikat di ataranya adanya pergeseran jasa di AS, ketersediaan kredit, tingkat pendapatan yang bisa dikeluarkan, tingkat suku bunga, tingkat inflasi, tingkat pasar uang dan sebagainya. Faktor tersebut mempengaruhi kegiatan ekspor import, pergeseran permintaan barang dan jasa, fluaktuasi harga dan sebagainya. Tren perubahan nilai dolaar AS memiliki pengaruh signifikan dan sangat besar terhadap perusahaan dari berbagai industri dan lokasi yang berbeda. Penurunan nilai dollar AS mempengaruhi industri farmasi, pariwisata, hiburan, kendaraan bermotor dll.
Kekuatan Sosial, Budaya, Demografi, dan Lingkungan, 
Perubahan sosial budaya, demografi sosial dan linkungan  memiliki dampak besar atas hampir semua produk jasa, pasar dan konsumen. Organissi kecil, besar dan nirlaba di semua industri dikejutkan dan ditantang oleh peluang dn ancaman yang muncul akibat pengaruh perubahan sosial, budaya, demografi dan lingkungan. Hal ini karena tren sosial budaya demografis dan lingkungan membentuk cara hidup, bekerja, memproduksi dan mengkomsumsi. Tren itu menciptakan konsumen yang berbeda pola hidup yang berubah menjadikan organisasi dan perusahaan harus merubah orientasi dan strateginya. Beberapa variabel sosial budaya, demografis dan lingkungan  yang penting di ataranya adalah tingkat kehamilan, sikap terhap waktu luang, jumlah perkawinan sikap terhadap bisnis, program sosial, sikap terhadap kerja polusi udara, menipisnya lapisan ozon spesies yang terancam punah dan sebagainya.
Kekuatan Politik, Pemerintahan, dan Hukum 
Pemerintah baik pusat dan daerah merupakan pejaba pembuat regulasi, deregulasi, pemberian kerja, penyubsidi dan konsumen utama organisasi. Faktor politik pemerintah dan hukum karenanya dapat mempresentasikan peluang dan ancaman baik bagi organisasi kecil maupun besar. Untuk industri yang sangat tergantung pada kontrak atau subsidi pemerintah, ramalan politik bisa menjadi bagian penting dari audit eksternal. Untuk industri perusahaan yang sanagat tergantung pada kontrak atau subsidi pemerintah, ramalan politik bisa menjadi bagian penting dari audit eksternal. Perubahan-perubahan dalam hukum paten, undang-undang antitrust (undang-undang yang menentang penggabungan industri-industri), tarif pajak, dan aktivitas lobi dapat memberi pengaruh informasi yang sangat bagus.
Undang-undang, badan pembuat peraturan dan kelompok kepentingan khusus dapat memberi dampak yang besar terhadap strategi dari organisasi kecil, besar, laba dan nirlaba. Banyak perusahaan telah merubah danmeninggalkan strategis lama karena aksi politis atau pemerintahan. Beberapa variabel politik, pemerintahan dan hukum yang dapat mempresentasikan peluang atau ancaman bagi organisasi seperti regulasi atau deregulasi pemerintah, perubahan dalam undang-undang perpajakan, tarif khusus, komisi tindakan politis, tingkat partisipasi pemilih uandang-undang perlindungan alam, tingkat subsidi pemerintah dan perundangan-undangan ati trust.
Kekuatan Teknologi
Perubahan dan penemuan teknologi yang revolusioaner memiliki dampak yang dramatis terhadap organisasi. Kemajuan superproduktivitas yang meningkatkan daya produk elektrik dengan mengurangi resistensi pada arus berevolusi pada operasi bisnis, khususnya dalam industri transportasi, perawatan kesehatan, kelistrikan dan komputer. Internet bertindak sebagai mesin ekonomi nasional dan global yang memacu pertumbuhan, sebuah faktor yang  sangat penting dalam kemampuan negara untuk meningkatkan standar hidup, dan membuat perusahaan mampu menghemat milliaran dollar biaya ditribusi da transaksi dari penjualan langsung kesistem swalayan. Internet mengubah hakikat terdalam dari peluang dan ancaman dengan mengubah siklis hidup, kreditor, produk, meningkatkan kecepatan distribusi, menciptakan produk jasa baru dengan menghapuskan batas-batas geografis tradisional dan mengubah pengimbangan historis antara stadarisasi produk dan fleksibilitas. Internet mengubah skala ekonomi dan menegaskan kembali hubungan antara industri dengan pemasok konsumen dan pesaing. Kekuatan teknologi mepresentasikan peluang dan ancaman yang harus dipertimbangkan dalam perumusan strategi.
Pada prakteknya keputusan-keputusan penting menyangkut teknologi sering didelegasikan ketingkat organisasional yang lebih rendah atau dibuat tanpa pemahaman yang baik mengenai implikasi strategisnya. Bagi para penyusun strategiindustri yang sangat terpengaruh oleh perubahan teknologi yang cepat diidentifikasi dan dievaluasi peluang serta ancaman tekhnologi bisa merepresentasikan bagian terpenting dari audit teksternal.
Kekuatan Kompetitif
Bagian penting dari audit ekternal termasuk adalah melakukan indentifikasi terhadap perusahaan pesaing dan menetukan kekuatan, kelemahan, kapabilitas, peluang, ancaman tujuan dan strategi mereka. Meskipun melakukan hal ini tidak selalu mudah karena banyak perusahaan multidvisional tidak memberikan informasi penjualan dan laba menurut divisi karena alasan kompetitif. Selain itu perusahaan jarang menerbitkan informasi keungan dan pemasaran.
Dalam melakukan audit ekternal terhadap kekuatan kompetitif perlu menjawab beberapa pertanyaan penting seperti; apakah kekuatan dan kelemahan pesaing anda?, apakah tujuan dan strategi pesaiang utama anda? Bagaimana mereka merespon kondisi ekternal, apa alternatif strategi mereka?, sampai pada pertanyaan sejauh mana produk tersebut dapa tmenjadi ancaan dalam persaingan industri ini?. Secara ringkas terdapat tujuh karakteristik utama untuk mengetahui pesaing perusahaan yaitu (1) Pangsa pasar, (2) Jenis Bisnis, (3) Perbaiki kualitas produk, (4) inovasi, (5) akuisisi, (6) Buat perbedaan dan (7) Tingkatkan Mutu dan kualitas untuk persaingan global.

 

Birokrasi dalam persfektif Pemerintahan

Birokrasi dalam persfektif Pemerintahan

Birokrasi dalam persfektif pemerintahan merujuk kepada sebuah prosedur-prosedur administrasi, yang di dalam terkait langsung dengan aspek institusional dan asosional. Prosedur tersebut tidak terlepas dari aspek managemen (perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, koordinasi, resolusi konflik dst) Dengan demikian birokrasi dalam persefektif ini sesungguhnya mengarah kepada bagaimana mewujudkan prosedur tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen dalam rangka pencapaian tujuan. Secara spesifik jika menilik fungsi dari birokrasi sebagai suatu prosedur penyelenggaraan dan penyelesaian tugas yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh konstitusi. Tugas-tugas konstitusi tersebut termasuk di dalamnya adalah menyelesaikan program pembangunan, pemberian pelayanan publik dan implementasi kebijakan pemerintah.
Pandangan beberapa yang terkait dengan birokrasi dalam kaitannya dengan pemerintahan seperti dikemukakan oleh Hegel, bahwa birokrasi hendaknya memberikan pelayanan untuk memenuhi kepentingan umum, yang berarti bahwa birokrasi tidak boleh memberikan pelayanan yang hanya dapat menguntungkan sekelompok orang atau kelompok. Dalam konteks ini maka Birokrasi menjadi menjembatan jembatan penghubung antara negara, yang merefleksikan kepentingan umum dengan civil society yang bersumber dari kepentingan khusus dalam masyarakat.
Sekaitan dengan hal ini, juga dapat mengadopsi pandangan Birokrasi Rasional Weber dengan ciri impersonal, hirarki, job description, kontrak, kualifikasi profesional, upah/gaji dan disiplin. Dalam konteks pemerintahan maka birokrasi rasional weber mengedepankan kedudukan badan pemerintah yang melaksanakan fungsi-fungsi manajemen pemerintahan, penetapan kebijakan publik, bersikap netral dan profesional, melaksanakan etika birokrasi dan tata pemerintahanan yang baik (Transparansi, akuntabilitas, dan partisipatif).
Birokrasi merupakan faktor penentu utama keberhasilan keseluruhan agenda pemerintahan selain masyarakat dan swasta. Di negara dan pemerintahan manapun anggota birokrasi disebut sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dengan predikatnya diharapkan dan dituntut untuk menampilkan perilakunya yang bersih sebagai penyelenggara pemerintah, pelaksana pembangunan dan pembina kemasyarakatan.

 

Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian:


Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian: 
Sebuah Agenda untuk Penelitian
George A. Boyne, Kenneth J. Meier, Laurence J. O’Toole, Jr. dan  Richard M. Walker

Pengantar Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian
Bagaimana meningkatkan kinerja pelayanan publik?
Pertama, bagaimana cara yang tepat untuk mengukur kinerja organisasi publik? Kedua, seberapa besar peran manajemen dalam meningkatkan atau menghambat kinerja? Ketiga, bagaimana konteks dari program-program dan organisasi-organisasi, baik di bidang politik maupun keorganisasian, menciptakan kontingensi yang dapat meningkatkan atau menekan berbagai faktor penentu dari kinerja?

Teori
Teori ditandai dengan presisi dan melalui generasi proposisi sehingga akan membuat temuan empiris ke dalam bentuk yang koheren dan jelas, dan juga akan menunjukkan jalan menuju penelitian masa depan. Teori harus dibangun dengan kuat dan dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat diterjemahkan menjadi suatu penambahan studi empiris.

Manajemen Publik sebagai agenda Penelitian

Beberapa Kelemahan Teori dalam manajemen publik diantaranya adalah (1) Penelitian bersifat diskursif dan spekulatif tanpa tes empiris yang sistematis, dan tanpa petunjuk-petunjuk yang empiris. Selain itu kebanyakan Cakupan deskriptif Konstruksi teori tidak memuat argumen logis yang kuat, untuk menghasilkan hipotesis.
ContohGagasan teori ekonomi Choi dan Heinrich tentang efisiensi sebagai nilai yang kecil dalam memprediksi atau menjelaskan kinerja sistem kontrak pemerintah, Prinsip Provan, Milward dan Analisis dokumen Asett yang digunakan dalam memahami kinerja 
Syarat Teori yang baik dalam Manajemen Publik

  1. Teori yang tepat, memiliki suatu karakteristik yang berguna dalam penyelidikan manajemen publik dan peranannya dalam penyediaan layanan publik. 
  2. Memiliki presisi dan selalu berusaha untuk memperoleh kesetaraan.  
  3. Memiliki variabel dan implikasi yang kompleks sehingga perlu dikurangi jumlah variabel dan fokus 
  4. Membatasi hubungan yang sederhana, linear , dan aditif antar variabel. 
  5. (O'TToole dan Meier 1999), Memilih pada fokus yang menunjukkan hasil yang produktif dalam bentuk pertanyaan empiris. 
  6. Untuk menghindari pemalsuan data pada analissi perlu mengurangi variabel yang di uji statistik. 

Selain itu juga Teori harus didasarkan pada klasifikasi yang tepat dari suatu studi yang masih berlaku.
Rancangan teori yang baik mengidentifikasi dan mengklasifikasi informasi untuk menentukan hubungan dan bentuk fungsional dari hubungan tersebut,.

  1. Mengidetifikasi fitur-fitur (indikator) Pelayanan publik
    Pelayanan publik yang dapat mempengaruhi variabel seperti manajemen yang dapat meningkatkan kinerja keorganisasian. Contoh: Penelitian Kinerja kesehatan, kinerja dalam otoritas lokal Welsh, lembaga federal AS, pemerintah nasional Australia, negara bagian Wisconsin, sekolah di distrik-distrik Texas, serta dalam bentuk eksplisit lintas nasional dalam bidang pendidikan dan e-government menunjukkan bahwa tidak hanya kinerja keorganisasian yang bervariasi dalam konteks perbedaan dan lokasi kejadian, tetapi bahwa hubungan antar variabel diharapkan dapat bervariasi pada subjek kontingensi. 
  2. Prediksi yang tepat terhadap Manajemen publik,
    Misalnya, reformasi New Public Management yang akan dilakukan di negara ini, tapi tidak di negara yang lain. Kita perlu untuk menentukan karakteristik atau kontingensi yang mempengaruhi hubungan antara manajemen atau faktor-faktor lain dengan kinerja pelayanan publik.     Teori tersebut harus memiliki presisi untuk dapat menentukan bahwa, misalnya, gaya manajemen yang melibatkan jaringan kerja dengan pelaku-pelaku eksternal akan meningkatkan hubungan positif antara sumber daya dan kinerja.
  3. Ilustrasi kontingensi (Situasional)
    Beberapa teori telah mengungkapkan bahwa manajemen mempengaruhi kinerja melalui serangkaian interaksi non-linieritas (O'Toole dan Meier 1999), dan bukti dalam buku ini menunjukkan non-linearities tertentu yang tampaknya telah menjadi sebuah karya. Beberapa di antaranya, seperti kegiatan “Red Tape” birokrasi dan kinerja oleh Pandey dan Moynihan, tidak hanya menegaskan pentingnya suatu kontingensi, tetapi juga menunjukkan adanya kebijaksanaan konvensional, yang dalam hal ini mengenai efek negatif kinerja yang ditimbulkan dari adanya pita merah birokrasi. 

Dengan demikian perlu membangun Infrastruktur Intelektual yang menyangkut kinerja pelayanan publik
Kami menawarkan tiga proposal:

  • dua yang bisa dimanfaatkankan pada studi individu dan juga pada penelitian umum masyarakat dengan meningkatkan sistematika fokus tentang pengukuran dan menghasilkan varians melalui pendekatan-pendekatan metodologis, 
  • satu yang dapat menghasilkan manfaat, terutama untuk investasi masyarakat yang lebih luas.

Kinerja Keorganisasian: Sebuah Agenda untuk Penelitian

Setiap ukuran empiris dari Pengukuran Kinerja terdiri dari dua bagian, yaitu;

  1. nilai sebenarnya dari konsep yang sedang diukur dan 
  2. beberapa kesalahan dari hasil pengukuran seperti bias baik mengenai diskriminasi ras (Andrews dkk. 2005) atau mencerminkan kepentingan diri manajer (Brewer) juga ujian standarisasi tidak sepenuhnya mengukur hal yang menyangkut pendidikan (Smith 2003), 

Pengukuran Kinerja bersifat objective
Pengukuran Objektif menggunakan Efek instrumentasi, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur berbagai interaksi kinerja dengan berbagai proses organisasi yang dapat memperjelas pengukuran mengenai kinerja.
Efek instrumentasi umum adalah perpindahan tujuan, sebagai organisasi tentunya berusaha untuk menghasilkan berbagai sistem akuntabilitas dan mengabaikan berbagai aspek pekerjaan yang tidak diukur oleh sistem akuntabilitas tersebut (Blau 1956).

Disfungsi Pengukuran (indikator) Kinerja Organisasi Secara Objektif

  1. Ketidakjujuran; menafsirkan jumlah pada pemilihan kasus-kasus pada suatu lembaga untuk mengukur kinerja staf akan menghasilkan angka-angka yang memungkinkan salah (Blau 1956), atau melaporkan data yang salah (Bohte dan Meier 2000). 
  2. Ada pengaruh tekanan politik ketika para pejabat politik berusaha untuk mencampuri program yang dilakukan.
  3. Boyne (2002) mengidentifikasi dimensi kinerja organisasi publik yang meliputi; kejujuran, partisipasi, akuntabilitas, dan biaya per unit dari hasil demokrasi (Moynihan dan Ingraham 2003). 
  4. Bidang Pemerintahan menggunakan data kinerja untuk membuat kebijakan, (Ingraham 2005). 
  5. Indikator kinerja hanyalah sebatas informasi umpan balik untuk pengambilan keputusan. 
  6. Pengendalian kinerja tergantung dari manajemen. Kenis menunjukkan bahwa "kontrol lembaga" tidak dapat diabaikan dalam pengendalian kinerja

Manajemen Publik 
Variabel Manajemen paling mempengaruhi kinerja yang terkait dengan fungsi-fungsi manajerial
Variabel manajemen masih jarang diteliti berkaitan dengan kinerja karena dampak dari bias disiplin ilmu ekonomi (berfokus pada insentif dan hasil) dan ilmu politik (berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan eksternal pada tiap unit organisasi). Sebelum manajemen publik dapat menjadi suatu desain ilmu yang benar (Simon 1996), di mana salah satu tujuannya untuk meningkatkan kinerja, pertama-tama kita harus mampu mengukur aspek-aspek yang relevan pada sistematika manajemen baik besar maupun kecil, yang dapat diandalkan dan valid

Manajemen Sumber Daya Manusia
Praktek manajemen dapat memotivasi karyawan, mengurangi pergantian karyawan, dan mungkin mempengaruhi kinerja secara keseluruhan (Rainey 2003).

Dalam Penelitian praktek Manajemen perlu

  1. Mengembangkan ukuran efisien 
  2. Mengembangkan seperangkat langkah-langkah manajemen sumber daya manusia yang berlaku umum. 
  3. Menganalisis secara sistematis kinerja organisasi, 
  4. Memanipulasi variabel yang berkaitan dengan kinerja pelayanan publik.

Beberapa Pendekatan dalam Penelitian Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian

  1. Melalui metode empiris, melalui Studi kualitatif dan Kuantitatif
  2. Metode eksperimental, meskipun akan sulit menggeneralisasi menurut Whitford dan Miller (2002)  
  3. Metode Survei oleh Chin dkk. 2000 dalam organisasi-organisasi politik
  4. Menggunakan studi empiris, simulasi komputer untuk menilai perbedaan taktik manajerial. 
  5. Pemodelan matematika, untuk melihat implikasi dari argumen teoritis atau bahkan untuk menunjukkan validitas logis dari suatu teori (O'Toole dan Meier 1999, March dan Simon 1958)

Catatan
Singkatnya, studi sistematis menyangkut kinerja pelayanan publik tidak akan banyak memiliki kemajuan tanpa peningkatan yang signifikan dalam studi manajemen publik. 
Seperangkat Data Hybrid
Ilmu manajemen publik tidak tersedia data secara luas, sehingga perlu ada data campuran karena:

  • Pemerintah memberikan sumber data tentang indikator kinerja, tetapi sedikit dan tidak ada hubungan dengan ukuran manajemen. 
  • Sumber data dari perangkat struktur organisasi yang tidak terdokumentasikan secara jelas sehingga Data arsip atau perangkat pemerintah tersebut perlu digabung dengan data survei struktur manajemen, kemudian menambah dan menggabungkan variabel-variabel lainnya. 
  • Data-data gabungan tersebut perlu dilengkapi dengan wawancara, kunjungan lapangan dan pengumpulan data melalui metode kualitatif untuk memberikan penjelasan dan menemukan adanya hubungan. 
  • Untuk membangun teori dalam bidang manajemen publik dan kinerja organisasi, dengan data campuran maka perlu dianalisis triangulasi untuk membuat pernyataan kausal yang meyakinkan, untuk menarik kesimpulan dan rekomendasi 

Metode-metode penelitian Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian
Pada pembahasan ini akan fokus pada tiga item metode, yaitu; kausalitas, non linearitas, dan berbagai masalah yang terkait dengan beberapa tujuan dalam sebuah organisasi, program tunggal, atau jaringan kerja.
Kausalitas. Analisis Kausalitas digunakan untuk mengubah faktor-faktor yang akan meningkatkan kinerja, bukan hanya untuk menjelaskan kinerja.
Suatu perubahan dalam variabel independen secara konsisten akan menghasilkan perubahan berikutnya dalam variabel dependen hanya jika hubungan kausal itu ada.
Non-Linearitas

  1. bentuk fungsional, berupa pertanyaan apakah ada atau tidak ada hubungan antara dua variabel yang dirangkum oleh garis lurus atau dengan perkiraan non linier. 
  2. variabel mungkin berinteraksi satu sama lain dan dalam proses menghasilkan hubungan yang sangat berbeda untuk beberapa organisasi. 
  3. hubungan antara dua variabel mungkin berbeda-beda pada tiap organisasi atau pada organisasi yang sama pada waktu yang berbeda.

Beberapa Tujuan yang Saling Terkait
Tujuan penelitian Mungkin jenis metode yang paling bermanfaat dari penelitian ini adalah bagaimana perubahan kinerja pada program A dibandingkan dengan perubahan kinerja pada program B dan bagaimana rasio ini dapat dijelaskan oleh variabel lain. Jenis analisis program elastisitas pada dasarnya akan menciptakan variabel dependen baru dari tahun ke tahun perubahan dalam berbagai program. Analisis seperti juga bisa menentukan desain sistem di mana program kinerja pada satu tujuan menghasilkan eksternalitas positif untuk tujuan-tujuan yang lainnya.
Desain struktural yang mempengaruhi kinerja,
a. sentralisasi yang bertentangan dengan desentralisasi,
b. produksi bersama,
c. rentang kendali,
d. pencampuran berbagai tipe karyawan,
e. jumlah kantor-kantor lapangan
Struktur program adalah variabel yang hilang dalam studi kinerja organisasi. Aspek ini hanya satu di antara banyak dimensi pada struktur yang mungkin berhubungan dengan kinerja. Provan dan Milward (1995), misalnya, jaringan-jaringan kerja tampil lebih baik ketika mereka mengambil beberapa aspek struktural hirarki yang lebih tradisional.

Kesimpulan
Peneliti peduli akan kinerja, tetapi tidak menjadikannya sekedar pemikiran akan suatu estetika atau intelektual berpikir, akan tetapi karena menyangkut hasil-hasil pelayanan publik dan memiliki nilai-nilai publik.
Sebagai konsekuensinya, bila terfokus pada peningkatan pelayanan publik, maka perlu menangani beberapa metode pertanyaan dari perspektif yang agak terpisah dari ilmu sosial lainnya.
Meningkatkan pelayanan publik berarti meningkatkan nilai-nilai publik, melibatkan perbaikan-perbaikan desain. Sebagai ilmu desain, manajemen publik perlu menerapkan teknik baru yang dikembangkan untuk menentukan bagaimana memperkuat dampak kinerja.
Demikian pula, beberapa perbaikan metodologis dapat mendapatkan pengaruh pada masalah kontingensi dan non linearities yang jelas merupakan bagian penting dari suatu pemecahan masalah.
Metode canggih lainnya juga dapat membawa perbaikan praktis yang memungkinkan kita untuk menilai prospek dan tingkat sebuah tujuan atau, sebaliknya, sinergi dalam berbagai program publik yang lebih kompleks.

 

Kepemimpinan: Kerjasama Regional dan Pemerintah Daerah


Kerjasama regional  "klasik"
Kerjasama Regional  bukanlah hal baru, karena tidak semua pelayanan publik dapat disampaikan oleh satu pemerintah daerah. Banyak bentuk kerjasama regional telah dikembangkan: bentuk ekstrim merger dari pemerintah daerah di satu sisi, dan berbagai bentuk kerjasama di sisi lain dengan kontrak tertentu antara dua pemerintah daerah sebagai bentuk paling sederhana. Pemerintah daerah antara lain akan melahirkan konsorsium atau kebijakan sektor publik yang spesifik, tetapi juga transfer kompetensi tertentu kepada masyarakat lain. Banyak dari kerjasama yang perlu ditemukan oleh pemerintah kota untuk dinegosiasikan dan disepakati, sedangkan yang lainnya diamanatkan oleh tingkat yang lebih tinggi. Kedua aspek, perjanjian dan mandat, juga dapat dianggap sebagai tujuan pada sebuah kontinum. Kemudian dalam bentuk uang ekstra dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi setelah kerjasama kontrak atau tongkat berbentuk tenggat waktu untuk kerja sama (kemudian mereka akan diamanatkan) akan terletak di antara keduanya. Dalam hal tidak ada dasar untuk kerjasama regional ada sama sekali, tingkat yang lebih tinggi dapat mengambil kompetensi dari tingkat lokal dan menyediakan layanan sendiri atau menciptakan kewenangan baru, baik itu otoritas transportasi metropolitan atau daerah air atau papan pembuangan kotoran atau distrik sekolah daerah . Sebenarnya kehadiran kabupaten atau propinsi di banyak negara adalah ekspresi dari transfer kompetensi ke tingkat yang lebih tinggi.
Karena setiap kerja sama regional membutuhkan 'aksi bersama' oleh pelaku yang berbeda, dan negosiasi plus (kontrak) perjanjian tidak selalu memadai untuk kerja sama, setidaknya beberapa jenis dasar umum harus ada atau - jika tidak ada belum - harus didirikan. Model "istituzionale-fiduciario" (Longo 2005, hal 139) sangat membantu untuk memahami situasi: kepercayaan dasar ini memungkinkan Anda untuk diri Anda melakukan dengan positif aturan tentang 'gayung bersambut': Saya memberikan sesuatu, jika saya mendapatkan sesuatu kembali, maka aku akan memberikannya lagi  merupakan tindakan bersama memiliki makna bahwa semua yang terlibat dapat memahami, nilai-nilai yang dijiwai menjadi kerja sama dan dilembagakan dengan "munculnya identitas organisasi" (Stacey 2004, hal. 319).
Ada masalah perbedaan pemerintahan yang melekat pada jenis kerjasama 'klasik'. Demokrasi-defisit mungkin adalah masalah yang paling parah. Sedangkan demokrasi lokal dapat dan adalah hidup sebagian besar kali, demokrasi adalah daerah (setidaknya secara psikologis) jauh dari warga, bahkan mungkin telah didelegasikan kepada para politisi lokal yang pada saat yang sama melayani di dewan atau dewan pemerintahan daerah. Pada bilik suara warga lupa bahwa mereka juga dapat memilih wakil mereka di pemerintah daerah, dan lokal / regional politisi akan memberikan prioritas kepada konstituen lokal mereka dan melupakan kerja sama regional.
Dalam bentuk klasik kerjasama regional batas yang jelas - ini adalah sekitar wilayah gabungan kotamadya. Hal ini menimbulkan masalah, namun. Mereka hasil dari kebutuhan teritorial yang berbeda dari layanan yang berbeda: pasokan air memiliki dasar teritorial yang berbeda sebagai pembuangan air pembuangan kotoran. Sekolah kabupaten bervariasi untuk sekolah dasar dan sekolah kejuruan. Gagasan "fungsional, yurisdiksi yang tumpang tindih dan bersaing" dari ekonom Swiss Bruno Frey dan Reiner Eichenberger (Frey / Eichenberger 1999) seharusnya untuk memungkinkan lapisan teritorial yang berbeda yang cocok dengan urgensi sektor kebijakan yang spesifik dan pada saat yang sama memecahkan masalah demokrasi dengan langsung hubungan antara warga negara dan yurisdiksi tersebut. Diskusi yang sedang berlangsung terutama di Swiss telah menyebabkan beberapa perkiraan untuk ide ini.

Tipe Baru bentuk Kerjasama
Sampai sekarang, masih ada aggapan bahwa kerjasama regional hanya sebatas urusan publik - kerjasama entitas publik. Kebanyakan telah mempromosikan solusi hukum kerjasama antara lembaga-lembaga publik saja. Baru-baru ini jenis kerjasama regional telah muncul - dengan aktor lebih banyak dan beragam: keterlibatan sektor swasta, LSM atau bahkan individu, pemerintahan tingkat yang lebih tinggi mungkin terlibat di luar pengawasan dan mengontrol fungsi-fungsi mereka dalam kaitannya dengan dunia lokal. Perkembangan ini bahkan melintasi perbatasan, sebagai tipe lain dari kerjasama.
Kadang-kadang perkembangan ini dipercepat oleh kebijakan regional Uni Eropa terutama di negara-negara yang baru saja menjadi anggota. Pada tahun 2005 dan 2006 sebuah proyek penelitian yang didanai oleh Böckler Hans Jerman Stiftung telah melihat lebih dekat pada bentuk-bentuk baru dari kerjasama daerah  .
Perkembangan yang berkaitan dengan banyak ragamnya tujuan-tujuan:
Tujuan ekonomi yang melimpah  Dalam hal pemerintah daerah tidak melihat kesempatan untuk bermain di tingkat ekonomi dunia, mereka bisa mencoba untuk bermain di tingkat dunia dan memperoleh atribut kritis, magnet dan lem, bekerja sama dengan kota-kota lain, bisnis , lembaga pendidikan tinggi dan mungkin tingkat lebih tinggi dari pemerintah (Plamper 1996, hal. 332). "Magnet adalah lembaga utama yang menarik anggota potensial bagi kelas dunia ke tempat tertentu" - "Social Glue mencakup kualitas industri antar-tindakan dan kualitas hidup yang menahan mereka" (Moss Kanter 1995, hal 357.). Meskipun prevalensi tren globalisasi, ekonomi nasional "Amerika Serikat didukung oleh 'Kawasan Ekonomi Lokal'" (Barnes / Ledebur 1994, hal. Iii). Ada banyak alasan untuk berasumsi bahwa ada wilayah ekonomi lokal tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi membentuk dasar terpisah dari ekonomi Eropa.
Dalam konteks Uni Eropa pentingnya tujuan lain adalah untuk memperoleh: bantuan / subsidi oleh Uni Eropa mungkin dikombinasikan dengan hibah yang cocok dibatasi oleh pemerintah nasional untuk pengaturan koperasi pada tingkat antar-lokal atau regional (Lehner 2006; Petzold 2006; Pieper 2006; Tömmel 2006). Akan tetapi kerjasama yang ditimbulkan, meskipun memiliki tujuan yang jelas pengaturan ini mungkin rapuh untuk tetap menjaga stabilitas dan kerjasama dapat berhenti setelah dana memiliki berakhir
Tujuan lain mungkin berhubungan dengan pengembangan modal sosial dan masyarakat sipil atau untuk perencanaan tata ruang.
Berbeda dengan bentuk klasik dari kerjasama regional, batas ini lebih luas. Hal ini disebabkan orang-aktor fungsional yang mengikuti bukan jalan teritorial yang berkaitan dengan kerja sama regional. Politisi ingin membahas tema lainnya dari perspektif teritorial, sedangkan perusahaan biasanya membahas tanpa pertimbangan teritorial. (Fürst 2006, hal. 53)
Kerjasama regional hari ini jauh lebih dari sekedar kerja sama dari kota untuk mencapai efisiensi dan efektivitas dalam cara yang lebih baik. Selain itu, kerjasama tersebut terdiri dari perusahaan, LSM dan juga individu dan badan-badan pemerintah lainnya dan juga berbagai tingkat pemerintah. Aktor yang beragam dalam suatu  komunitas yang berbeda dapat bekerja sama. Alih-alih negosiasi, untuk mencapai kesepakatan dan bahkan menandatangani kontrak, mereka lebih mengikuti model 'istituzionale-fiduciario', lebih mudah untuk memperolehnya, tapi kerjasama kadang lebih rapuh. Jumlah kerja sama, struktur, stabilitas (siklus hidup), hukum, legitimasi demokratis dan namun hasil dicapai (dibandingkan dengan idealnya) sangat bervariasi.

 
 
Support : Creating Website | Jay Template | uak sena
Copyright © 2011. Administrasi Publik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger