Latest Post
Showing posts with label Filsafat Ilmu Lanjutan. Show all posts
Showing posts with label Filsafat Ilmu Lanjutan. Show all posts

Apakah Manusia itu?


Pertanyaan apakah manusia itu? selalu diajukan meski belum pernah memperoleh jawaban sempurna dan dapat memuaskan. Jawaban tentang apakah manusia itu selalu benar berdasarkan persfektif yang berbeda. Hampir semua cabang ilmu selalu mengikutkan pertanyaan tersebut dan bahkan sebahagian menyebutkannya bahwa esensi dari pengembangan pengetahuan terstentu mengarah kepada upaya untuk mengungkap keberadaan manusia. Pembicaraan manusia tidak pernah ada habisnya, karena manusia selalu membicarakan dirinya sendiri. Argumen-argumen dalam berusaha memahami hakikat manusia sendiri selalu beragam. Secara umum memiliki 3 pendekatan menurut Kattsoff yaitu (1) pemaknaan manusia dengan meneliti persamaan karakter manusia dengan karakter lainnya, (2) Pemaknaan manusia berdasarkan persfektif bahasa yang bersesuaian dengan maksud kalimat yang mengikutinya dan (3) Meneliti apa yang telah dilakukan manusia kemudia menyimpulkan hakikat manusia berdasarkan apa yang telah dihasikannya. Ketiga metode ini sesungguhnya berupaya untuk mengungkapkan jatidiri manusia. Metode pertama dan metode kedua sebenarnya terdapat kemiripan dalam mendeskripsikan apakah yang disebut manusia di mana pada kedua metode tersebut berusaha mengungkap manusia berdasarkan penggunaan istilah “manusia” berdasarkan persamaam karakteristik yang dimiliki dan disimpulkan dengan menggunakan bahasa yang dapat mempertegas karasteristik yang dimaksud. Sementara metode ketiga menggunakan penelitian terhadap apa yang dilahirkan oleh karakteristik tersebut untuk kemudian menyimpulkan berdasarkan apa yang telah dihasilkannya.
Dari ketiga metode ini sebenarnya telah melahirkan banyak definisi tentang manusia seperti “manusia dan  binatang kedua-duanya persis sama” Manusia adalah sebuah mesin yang diberi makan danmenghasilkna pikiran” dan “Manusia yang mulia merupakan sekedar penciptaan Tuhan”.
Dari keseluruhan simpulan-simpulan tentang manusia tentu tidak dapat memuaskan rasa ingin tahu manusia itu sendiri. Akan tetapi menurut Kattsoff bahwa pernyataan atau simpulan tentang manusia dapat saja diterima sepanjang memenuhi minimal tiga kriteria yaitu:
1. Jawaban itu runtut yang berarti tidak menimbulkan pertentangan  di dalam dirinya sendiri,
2. Jawaban itu sesuai dengan bahan bukti artinya dapat dikukuhkan oleh bahan-bahan yang menopang
3. Jawaban itu koheren dengan keyakinan kita dengan yanglainnya cocok dengan pandangan umum tanpa menimbulkan kontradiksi.

 

Ciri-Ciri Berpikir Filosofis



Ciri-ciri berpikir filosofis kadang menjadi pertanyaan serius dalam kajian filsafat ilmu. Benarkah semua orang yang berpikir itu sedang berfilsafat? Pertanyaan ini terkadang menjadi pertanyaan sederhana berkaitan dengan pembahasan tentang filsafat. Apakah benar Semua orang berfilsafat, karena semua orang memiliki potensi untuk berpikir. Dalam Kajian Prof. Dr. H. Andi Makkulau, M.Si, diuraikan beberapa ciri berpikir yang termasuk dalam kategori berpikir filsafat.

Ciri berpikir filosofis di antaranya adalah Membangun bagan kosepsional, Salah satu cara untuk mengurangi inkoherensi adalah mengusahakan membangun bagan konseptual. Gagasan harus berhubungan dengan lainnya secara logis, formal dan ketat, setiap bagian harus mengalir lancer, dari bagaian yang mendahului ke bagian sesudahnya. Agar arus informasi dan pemikiran terus mengalir, kiranya peerlu memikirkan bahwa setiap gagasan harus mengandung sebuah subyek dan predikat. Jadi untuk mempertahankan agar arus informasi secara terus menerus, maka harus menyusun gagasan dengan satu diantara berbagai bentuk.

Ciri lain adalah bahwa alam berpikir filsafat harus menanmpakkan cara Berpikir secara holisitk, Keutamaan yang diinginkan dalam berpikir filsafat adalah berpikir secara holistic. Gagasan yang menyeluruh  mengemas banyak informasi dalam ruang yang terbatas. Selayaknya menghindari keinginan yang berlebihan mencapai holistic, sehingga merusak perkembangan inti esei, yang mungkin perlu diperjelas dan dibuat lebih meyakinkan.

Berpikir filosofis juga harus bersifat Tuntas, Ketuntasan sebuah argument bergantung pada seleksi yang hati-hati dan penggunaan kata yang tepat. Pemikiran kritis bergantung pada konsistensi organisasi bahasa (kata, paragraf, kalimat) sedalam diskursus yang tertib dan dapat dimengerti. Harus berhati-hati dengan berbagai penggunaan kata yang berbeda, ragam makna dan kekaburan arti. Hendaknya menghindari penggunaan metafora/analogi, dan mencoba menghindari jargon yang dapat dijelaskan.
Apakah benar Semua orang berfilsafat, karena semua orang memiliki potensi untuk berpikir. Dalam Kajian ciri berpikir yang termasuk dalam kategori berpikir filsafat diantaranya adalah berpikir dengan Membangun bagan kosepsional, Berpikir secara holistik, Berpikir Tuntas, Konsisten dan Koheren
Sifat berpikir filososfis lain adalan berpikir Konsisten, dalam proses penyusunan esei, kita akan membuat sejumlah pertanyaan yang mencakup banyak segi yang berbeda mengenai pokok persoalan diangkat. Kita harus berhati-hati, apa yang dibahas tidak boleh bertentangan dengan apa yang diungkap. Konsistensi merupakan sifat yang harus dirangkaikan dalam berbagai argumentaasi. Karena kadang-kadang pertanyaan yang kompleks dapat mengandung inkonsistensi internal.

Selain berciri konsisten dalam berpikir filsafat juga harus tetap mempertahankan sifat Koheren, Suatu argumentasi atau pernyataan abstrak dan kongkret yang tidak didukung empirisme dapat menjadi tidak koheren ketika dalam keseluruhan argumentasi tidak memiliki arti. Seprti ketika kita memakai sebuah istilah, nilai koherensi akan timbul dari berbagai esei yang tidak menyatu bersama dalam keseluruhan yang koheren. Kemudian Inkoherensi dapat terjadi ketika sebuah argumentasi ysng bermakna ditempatkan dalam konteks yang tidak semestinya. Keseluruhan esei adalah tidak koheren, sejauh masih dipengaruhi oleh berbagai komponen yang tidak koheren.

 

Paradigma Kuhn: Gagasan Baru untuk melahirkan Teori

Thomas Kuhn
Sebelum seorang ilmuwan mulai memaparkan “teori baru”-nya, dengan mengembangkan definisi-definisi, statemen-statemen, dan hubungan-hubungan timbal-balik di antara statemen-statemen (atau teori-teori), ia biasanya mempunyai sebuah konseptualisasi – suatu orientasi ke arah atau perspektif tentang gejala bersangkutan, dan ini membentuk basis bagi teori tertulis atau teori formal dia.  Dengan kata lain, setelah suatu gagasan baru muncul pada ilmuwan bersangkutan, ia berusaha untuk memaparkan gagasan ini kepada ilmuwan-ilmuwan lain dengan menggunakan definisi-definisi dan statemen-statemen eksplisit.  Kadangkala gagasan baru ini lebih dari sekedar suatu cara yang berbeda untuk mendeskripsikan data yang sama; ini bisa meliputi suatu “pandangan-dunia” atau perspektif yang unik yang mana ilmuwan yang menghasilkannya mungkin tidak sepenuhnya menyadari itu.

Paradigma Kuhn: Gagasan Baru untuk melahirkan Teori

Tipe gagasan baru yang paling dramatis akan diacu sebagai sebuah “paradigma Kuhn”, karena ini semula disarankan oleh T.S. Kuhn (1962).  Ini mempunyai ciri-ciri berikut:
  • Gagasan tersebut mewakili suatu konseptualisasi baru secara radikal tentang gejala-gejala bersangkutan; Gagasan tersebut menyarankan sebuah strategi riset atau prosedur metodologis yang baru untuk mengumpulkan data empiris yang mendukung paradigma bersangkutan;
  • Gagasan tersebut cenderung mengemukakan persoalan-persoalan baru untuk dipecahkan;
Penerapan paradigma baru bersangkutan sering menjelaskan gejala-gejala yang tidak bisa dijelaskan oleh paradigma-paradigma sebelumnya. Ringkasnya, sebuah paradigma Kuhn bukan hanya mencakup suatu orientasi yang unik dan belum ada pendahulunya ke arah gejala-gejala bersangkutan, suatu terobosan dramatis pada orientasi-orientasi yang lalu dan orientasi-orientasi yang ada, tetapi juga melibatkan suatu pergeseran besar dalam strategi riset (sering mencakup teknik-teknik riset baru) juga.  Kuhn mengacu paradigma-paradigmanya sebagai “revolusi-revolusi ilmiah”.

Terdapat sejumlah contoh paradigma Kuhn dari ilmu fisika dan ilmu biologi yang dipaparkan oleh Kuhn (1962).  Dua darinya akan disajikan di sini.  Sebelum Newton, jatuhnya benda-benda ke bumi dijelaskan oleh benda-benda yang mengusahakan tempat istirahat “alami”-nya, permukaan bumi.  Ketika sebuah apel dipisahkan dari pohon, ia akan mencari tempat istirahat “alami”-nya dan bergerak ke arah, atau “jatuh” ke, tanah.  Newton menyarankan suatu cara baru untuk mendeskripsikan gejala yang sama sebagai daya-tarik dua benda satu sama lain.  Ketika apel dipisahkan dari pohon, bumi tertarik ke, dan bergerak menuju, apel tersebut dan apel tersebut juga tertarik ke bumi.  Karena perbedaan dalam massa, apel berjalan lebih jauh ketimbang bumi.  Meskipun pertamanya ini mungkin tampak merupakan suatu perbedaan kecil dalam perspektif, teori baru ini melibatkan sebuah orientasi yang berbeda secara dramatis ketika diterapkan pada gerakan planet-planet dalam sistem tatasurya (di mana massa benda-benda bersangkutan lebih mirip), dan diperlukan waktu beberapa ratus tahun bagi orientasi baru ini untuk sepenuhnya diadopsi.

Sebelum Darwin, salah satu penjelasan yang dominan dari “harmoni” jelas di antara bentuk-bentuk kehidupan dan lingkungannya – mengacu ke cara di mana bentuk-bentuk kehidupan tampaknya demikian bagus beradaptasi dengan lingkungan-lingkungan fisiknya – adalah bahwa setiap benda hidup merupakan bagian dari sebuah rencana induk (dipikirkan dan dilaksanakan oleh Yang Maha Besar) yang dirancang untuk menghasilkan spesimen-spesimen “ideal” dari setiap spesies.  Darwin mengemukakan bahwa hubungan “harmonis” ini bisa dijelaskan oleh dua proses duniawi (earthly proces): variasi-variasi kecil dalam bentuk-bentuk kehidupan, secara kontinyu dihasilkan oleh proses-proses genetik alami selama reproduksi, dan kecenderungan bentuk-bentuk kehidupan tersebut untuk lebih cocok dengan lingkungannya untuk bertahan hidup atau untuk bereproduksi secara lebih sering ketimbang bentuk-bentuk kehidupan yang kurang cocok dengan lingkungan.  Jelas, konseptualisasi Darwin merupakan sebuah teorbosan dramatis terhadap pandangan-pandangan lama, suatu revolusi ilmiah yang bahkan sekarang belum diterima secara universal.

Mungkin karena masih kurang ada kesepakatan di antara para ilmuwan sosial tentang sifat dari paradigma-paradigma yang ada, atau pandangan-pandangan tentang gejala-gejala bersangkutan, agak lebih sukarlah memilih contoh-contoh terkenal dari paradigma-paradigma Kuhn di dalam ilmu-ilmu sosial.  Konsepsi Marx tentang masyarakat, strategi analisis Durkheim, orientasi Cooley-Mead tentang pengembangan dan pemeliharaan suatu konsep-diri, atau model sebuah sistem ekonomi industrial Keynes, bisa disebut sebagai paradigma-paradigma Kuhn.  Meskipun demikian, jelas bahwa sebuah konseptualisasi, teori Freud tentang kepribadian, mempunyai semua karakteristik paradigma Kuhn.  Berikut ini adalah sebuah rangkuman ringkas tentang gagasan-gagasan Freud, tentang bagaimana gagasan-gagasan tersebut memenuhi kriteria paradigma Kuhn.

Sumber: A Primer in Theory Construction by Paul Davidson Reynolds
 

Penelitian Empiris dan Tingkat Kepercayaan Pernyataan Abstrak

Jika penelitian empiris tidak pernah dapat membuktikan kebenaran pernyataan abstrak, maka bagaimana hal itu dapat mempengaruhi status pernyataan suatu teori? Sementara hasil penelitian empiris yang besifat konkret oleh tetap menjadikan pernyataan abstrak sebagai alat prediksi untuk menjelaskan kebenaran pernyataan tersebut. Reynolds memberikan contoh sebagai berikut:
"Semakin formal sikap anggota kelompok, semakin kohesif suatu kelompok"
Pernyataan ini akan disebut sebagai X pernyataan. Sebagai sebuah pernyataan abstrak, menjadi mustahil untuk membuktikan bahwa pernyataan itu benar, tapi terdapat kemungkinan untuk membuktikan bahwa pernyataan abstrak tersebut salah. Untuk membuktikannya maka dilakukan penelitian untuk pernyataan X. Penelitian ini dirancang untuk menentukan apakah pernyataan konkret, dianggap sebuah pendukungn kebenaran dari pernyataan X, yang dapat membentuk suatu deskripsi akurat tentang perilaku aktual. (Lihat contoh sebelumnya) bahwa pernyataan itu berlaku untuk sekelompok orang tertentu pada waktu tertentu, dan hal itu bisa saja benar dan bisa salah .

Untuk membuktikan hal tersebut, Jones dan Smith melakukan penelitian. Jones melakukan penelitian yang berkaitan dengan X sebagai pernyataan umum, dan hasil penelitiannya berhubungan dengan X sebagai pernyataan umum. Sementara penelitian Smith terhadap pernyataan X akan tergantung tiga faktor:
  1. Sikap Smith terhadap pernyataan X tidak diterima sebelum belajar dari hasil penelitian Jones.
  2. Hubungan antara pernyataan X dan hasil penelitian Jones.
  3. Jones menggunakan prosedur untuk mengumpulkan data-datanya
Jika Jones memiliki prosedur penelitian yang ceroboh, Smith mungkin skeptis terhadap hasil yang diperoleh Jones, sehingga Jones harus menggunakan prosedur penelitian yang benar agar Smith menerima Hasil penelitian Jones sebagai temuan yang tepat (empirical) (yaitu, hasil yang akan terjadi lagi jika prosedur yang sama diulang).

Untuk kasus yang pertama, Smith memiliki pendapat yang nyata tentang pernyataan X; Ada tiga kemungkinan hasil untuk penelitian Jones menurut Smith: baik yang mendukung pernyataan, tidak mendukung pernyataan itu, atau tidak meyakinkan. Jika hasil penelitian tidak dapat disimpulkan Jones, maka sikap Smith terhadap  pernyataan X akan mengalami perubahan. Jika hasil Jones baik mendukung atau tidak mendukung pernyataan (hasil empiris yang dilakukan atau tidak sesuai dengan pernyataan), maka hasilnya akan memiliki efek maksimum pada sikap Smith. Smith akan berubah dari posisi netral ke sikap yang lebih moderat bahwa pernyataan X berguna, tergantung pada hasil penelitian ilmiah Jones.

Sebagai perbandingan, mempertimbangkan situasi kedua, di mana Smith tahu dari study, yang konsisten dengan Statemen X. Akibatnya, Smith memiliki keyakinan yang tinggi di X pernyataan sebagai deskripsi berguna bagi suatu fenomena. Jika penelitian Jones adalah inconclusive, maka hasil itu tidak memiliki efek nyata pada sikap Smith terhadap pernyataan X, karena Smith sudah sangat yakin bahwa pernyataan itu berguna. Oleh karena itu, Smith mungkin bertanya mengapa Jones repot-repot melakukan penelitian, karena "kita sudah tahu bahwa".

Namun, jika hasil Jones tidak mendukung pernyataan X sebagai sesuatu yang berguna, karena ada lima "baik" studi yang konsisten dengan pernyataan. Jika menyajikan hasil Jones, yang tidak konsisten dengan pernyataan X tidak berguna untuk situasi Thet. Jika Smith puas bahwa prosedur Jones adalah memuaskan, maka sikapnya terhadap pernyataan X dapat dikurangi.
Berdasarkan uraian tersebut, maka Reynold menarik kesimpulan bahwa prosedur penelitian kongkret diarahkan pada (1) upaya untuk membuktikan pernyataan abstrak itu salah, (2) untuk mengklasifikasikan pernyataan abstrak sebagai suatu teori maka sikap ilmuan terhadap pernyataan abstrak sangat dipengaruhi oleh hasil penelitian empiris. Disamping itu hasil peenelitian Empiris tingkat kepercayaannya ditentukan oleh (1) hasil penelitian, (2) kualitas prosedur penelitian, dan 3) sikap ilmuwan terhadap pernyataan abstrak sebelum mengetahui temuan yang labih baru
 

Pernyataan Abstrak dan Pengamatan Konkret

Pernyataan Abstrak dan Pengamatan Konkret merupakan dua hal yang  perlu mendapat perhatian sebelum mengurai suatu kebenaran pada teori tertentu. DAlam melakukan testing teori sebagai upaya pembuktian kebenaran suatu teori adalah dengan memahami beberapa pernyataan yang berkaitan dengan teori yang dimaksud dengan sifat singkronisasi dari hasil pengamatan kongkret. Bagaimana mengetahui hubungan antara pernyataan Abstrak dan pengamatan Kongkret. Reynolds dalam A Primer thery Construktions merumuskan beberapa contoh sederhana berkaitan dengan hal tersebut. Misalnya pada contoh berikut:
 “Semakin Seragam sikap Anggota dalam suatu kelompok, maka kelompok tersebut semakin kohesif”.
Contoh tersebut memuat dua buah pernyataan yang masing-masing berdiri sendiri yaitu “Semakin Seragam sikap Anggota dalam suatu kelompok, dan pernyataan “kelompok tersebut semakin kohesif”. Pernyataan ini memang bersifat “spatial” dan “temporal” dan bersifat abstrak dan membutuhkan penelitian empiris untuk mebuktikan kebenarannya. Contoh lain yang dikemukakan adalah pada penelitian empiris pada universitas XYZ.
“Selama tahun 1965, pasangan yang berpacaran di Universitas XYZ yang memiliki orientasi politik yang sama, baik liberal atau baik konservatif, lebih tinggi frequenlty pertemuan dari pasangan dengan orientasi politik yang berbeda, yaitu satu konservatif dan satu liberal”.
Berdasarkan contoh tersebut maka jika dirujuk pada esensi pengujian teori yang berkaitan dengan bagaimana suatu penelitian kongkret mendukung pernyataan abstrak agar pernyataan abstrak tersebut menjadi benar. Perlu diketahui bahwa fakta-fakta yang dijelaskan oleh pernyataan konkret juga dijelaskan oleh pernyataan yang lebih abstrak, artinya bahwa setiap pernyataan abstrak didukung oleh kenyataan empiris demikian pula sebaliknya. Contoh di atas menunjukkan bahwa “Pasangan kencan sebagian kelompok, dengan orientasi politik merupakan bentuk sikap, sementara frekuensi pembentukan kelompok kencan adalah merupakan bentuk tindakan dari proses pembentukan kelompok.

Isu kedua sedikit lebih kompleks. Jika pernyataan abstrak, itu harus diterapkan di masa depan. Jika diterapkan pada situasi masa depan, ada kemungkinan kebenarannya tidak dapat dibuktikan. Oleh karena itu, tidak mungkin dapat membuktikan kebenaran pernyataan abstrak untuk semua kondisi masa depan kecuali setiap kondisi yang dimaksudkan berada dalam lingkup pernyataan. Di sisi lain, karena pernyataan abstrak berlaku untuk masa lalu dan masa kini, maka kemungkinan untuk membuktikan berlaku atau tidak berlaku pada beberapa situasi memungkinkan pernyataan abstrak dipalsukan.

Kedua hal ini perlu didiskusikan secara tepat yang berkaitan dengan strategi penelitian agar penelitian tersebut mengarah kepada pembuktian kebenaran dari suatu pernyataan, atau mencari bukti kebenaran pernyataan, sebagai tujuan dari suatu  penelitian. Yang terpenting dari persoalan ini adalah bahwa aggapan dasar peneliti jika pernyataan sekalipun abstrak tetapi tidak menjadi pasti apakah pernyataan itu benar atau salah sehingga para peneliti tidak dapat menjustifikasi suatu pernyataan benar atau salah sebelum melakukan uji untuk membuktikan kebenaran dari suatu pernyataan secara kongkret.

Berdasarkan hal tersebut maka dalam buku ini di tegaskan bahwa sesungguhnya pernyataan abstrak merupak salah satu faktor yang membangun kebenaran penelitian empirisme, bahwa pernyataan abstrak tersebut merupakan dasar untuk melakukan pembuktian melalui penelitian empirisme. Reynold menegaskan dua hal penting berkaitan dengan pernyataan abstrak dan penelitian kongkret yaitu: 

Hipotesis konkret mungkin benar atau salah, karena terkait dengan pengaturan tempat dan waktu. Jadi temuan penelitian konkret menjadi dasar keyakinan penelitia bahwa pernyataan abstrak akan berhubungan dengan bagian lainnya. Penggunaan statistik klasik, menekankan pada kepastian "benar" atau "salah", Meskipun prosedur keputusan statistik dapat diterapkan pada hipotesis yang lebih kongkret, akan tetapi hasilnya sering diterapkan secara langsung, akan tetapi tidak tepat digunakan secara langsung untuk pernyataan abstrak.

Setelah menemukan hubungan pembuktian antara pernyataan abstrak dengan pengamatan kongkret maka selanjutnya tingkat kebenaran pernyataan empirisme terhadap pembenaran pernyataan abstrak (pada postingan berikutnya).
 

Konsep, Paradigma Dan Teori Ilmu Administrasi dalam tinjauan Filsafat

Konsep
Sekitar tahun 80-an berkembang konsep yang berlabel baru untuk memberdayakan konsep ilmu administrasi publik. Konsep tersebut antara lain ada yang menyebut New Public Administration (Bellone, 1980), The New Science of Organizations (Ramos, 1981), dan terakhir sekitar 90-an muncul konsep disebut New Public Management (Ferlie, 1996). Ini pada hakekatnya berupaya untuk mencerahkan konsep Ilmu Administrasi Negara.
Administrasi publik dimaksudkan untuk lebih memahami hubungan pemerintah dengan publik serta meningkatkan  responsibilitas kebijkan terhadap kebutuhan publik, dan juga melembagakan praktek-praktek manajerial agar terbiasa melaksanakan suatu kegiatan dengan efektif, efesien dan rasional
Peran administrasi publik dalam suatu negara sangat vital sehingga Karl Polangi mengatakan bahwa kondisi ekonomi suatu negara sangat tergantung pada dinamika administrasi publik.

Teori:
Gray (1989) menjelaskan peran administrasi publik dalam masyarakat adalah (1) menjamin pemerataan distribusi pendapatan nasional kepada kelompo masyarakat miskin secara berkeadilan, (2) melindungi hak-hak rakyat atas kepemilikan kekayaan, serta menjamin kebebasan bagi rakyat untuk melaksanakan tanggung jawab atas diri mereka, (3) melestarikan nilai tradisi masyarakat yang sangat bervariasi
Dimock & Dimock membagi empat komponen administrasi publik yaitu: (1) apa yang dilakukan pemerintah: pengaruh kebijakan, tindakan-tindakan politis, dasar-dasar wewenang, lingkungan kerja pemerintah, penentuan tujuan, kebijakan administratif kedalam rencana-rencana, (2) Bagaimana pemerintah mengatur  organisasi, personalia, pembiayaan, usaha, struktur administrasi dari segi formalnya, (3) bagaimana para administrator mewujudkan kerjasama, (4) bagaimana pemerintah tetap bertanggung jawab baik pengawasan eksekutif, yudkatif dan legislatif.
Ruang lingkup administrasi publik adalah (1) kebijakna publik, (2) birokrasi publik, (3) managemen Publik, (4) Kepemimpinan,  (5) pelayanan Publik, (6) Administrasi kepegawaian, (7) Kinerja, (8) etika administrasi publik.

Paradigma:
G. Fredrickson (1984) mengemukakan enam paradigma administrasi publik yaitu:
  • Birokrasi klasik yang berfokus pada struktur organisasi dan fungsi, prinsip manajemen sedangkan lokusnya adalah berbagai jenis organisasi, baik pemerintah maupun bisnis. Nilai pokok yang mau diwujudkan adalah efesiensi, efektifitas ekonomi dan rasional. Tokohnya adalah Weber (Bereucrasy, 1922), Wison (The Study of public administration, 1887), Tylor, (Scientific management, 1912) dan gullic dan Urwick (Paper on the Science of administration, 1937)
  • Birokrasi Neo Klasik memuat nilai yang dianut sama dengan paradigma birokrasi klasik, namun yang berbeda adalah fokus pada proses pengambilan keputusan  dengan perhatian khusus pada penerapan ilmu prilaku, ilmu manajemen, analisa sistem dan penelitian operasi sementara lokusnya adalah keputusan yang dihasilkan birokrasi pemerintah.  Tokohnya adalah Simon (Administrasi Behaviour, 1984) Cyer dan March (Abehavioral Theory of the firm, 1963)
  • Kelembagaan yang berfokus pada pemahaman mengenai prilaku birokrasi yang dipandang juga sebagai suatu organisasi yang kompleks. Masalah efesiensi, efektivitas dan produktivitas organisasi kurang mendapat perhatian. Salah satu perilaku organisaisasi yang diungkapkan dalam paradigma ini adalah perilaku pengambilan keputusan yang bersifat gradual dan increamental yang oleh Limbdon dipandang sebagai satu-satunya cara untuk memadukan kemampuan dan keahlian birokrasi dengan preferensi kebijkana dan berbagai kemungkinan bias dari pejabat politis.
  • Hubungan kemanusiaan yang intinya adalah keikut sertaan dalam pengambilan keputusan, minimasi perbedaan dan status dan hubungan antar pribadi, keterbukaan, aktualisasi diri dan optimasi tingkat kepuasan, fokusnya adalah dimensi-dimensi kemanusiaan dan aspek social dalam tiap jenis organisasi atau birokrasi.  Tokohnya Rennis Likert (The Human organizations its managemen and value, 1967)
  • Pilihan Publik, lokus administrasi negara menurut paradigma ini tak terlepas dari politik. Fokusnya adalah pilihan-pilihan untuk melayani kepentingan publik akan barang dan jasa yang harus diberikan oleh sejumlah organisasi yang kompleks, Tokohnya Ostrom (1973) Tullock (1968).
  • Administrasi negara baru: locusnya adalah usaha untuk mengorganisasikan, menggambarkan dan mendesain ataupun membuat organisasi dapat berjalan kearah dengan mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan secara maksimal yang dilaksanakan dengan menggambarkan sistem desentralisasi dan organisasi-organisasi demokratis yang responsif dan mengundang partisipasi dan peran seerta dan dapat meberikan secara merata jasa-jasa yang diperlukan masyarakat. Karakteristiknya adalah menolak bahwa para administrator dan teori administrasi bersifat netral atau bebas nilai.
David Osborn mengemukakan paradigmanya yakni Reinventing Government bahwa pemerintah harus bersifat katalik, meberdayakan masyarakat, mendorong semangat kompetisi, berorientasi pada misi, mementingkan hasil dan bukan cara, mengutamakan kepentingan pelanggan, berjiwa wirausaha, selalu berupaya mencegah masalah atau bersikap antisipatif, desentralistis dan berorientasi pasar.
Paradigma New Pablic Management (NPM) oleh hood mengemukakan tujuh komponen doktrin yaitu (1) pemanfaatan manajemen profesional, (2) penggunaan indikator kerja, (3) penggunaan yang lebih besar pada control output, (4) Pergeseran perhatian ke unit-unit terkecil, (5) pergeseran kekompetisi yang lebih tinggi, (6) penekanan gaya sector swasta pada praktek manajemen dan (7) penekanan pada sdisiplin dan penghematan yang lebih tinggi dalam penggunaan sumber daya.
JV. Denhart (2003) Paradigma New Public Service (NPS) administrasi publik harus (1) melayani warga masyarakat bukan sebagai pelanggan, (2) Mengutamakan kepentingan Publik, (3) lebih menghargai kewarganegaraan daripada kewirausahaan, (4) berikir strategis, bertindak demokratis, (5) menyadari bahwa akuntabilitas bukan merupakan suatu yang mudah, (6) melayani dari pada pengendalian, (7) menghargai orang bukan karena produktivitasnya semata.
 
 
Support : Creating Website | Jay Template | uak sena
Copyright © 2011. Administrasi Publik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger