Latest Post
Showing posts with label Teori Administrasi Publik. Show all posts
Showing posts with label Teori Administrasi Publik. Show all posts

Learning Organization dan E-Government

Perubahan yang terjadi yang begitu cepat menjadi tantangan tersendiri bagi sebuah organisasi untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Organisasi diperhadapkan pada tantangan untuk dapat menghadapi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Terjadinya perubahan lingkungan sebagai akibat dari adanya inovasi dalam bidang teknologi komunikasi dan bidang komputerisasi menjadikan suatu tantangan baru yang akan bersentuhan dengan prinsip-prinsip dan pedoman-pedoman manajemen yang mampu membuat organisasi lebih stabil dan dapat diprediksi, juga harus mengalami beberapa penyesuaian-penyesuaian. Oleh karena itu, maka jika organisasi ingin mempertahankan diri dan tetap sukses, maka organisasi harus mampu merespon setiap perubahan tersebut.
Organisasi baik sebagai organisasi publik ataupun organisasi bisnis harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Hal ini berarti bahwa organisasi harus memperhatikan pengaruh elemen-elemen yang dapat menyebabkan organisasi berubah. Sebagai sebuah sistem organisasi mempunyai struktur dan perencanaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran, di dalamnya orang-orang bekerja dan berhubungan satu sama lain dengan suatu cara yang terkoordinasi, kooperatif, dan dorongan-dorongan guna mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan (Beach, 1980; Champoux, 2003). Dalam kontek ini budaya belajar harus dikembangkan dengan asumsi inti bahwa lingkungan di mana organisasi berada harus dikelola karena sebuah organisasi akan lebih sulit melakukan proses simbiotik dalam lingkungan yang lebih bergejolak. Schein (2004) berasumsi bahwa perubahan akan membuat segalanya menjadi mungkin, sehingga adaptasi organisasi terhadap lingkungan yang berubah secara perlahan juga merupakan proses pembelajaran bagi suatu organisasi.
Apabila kita membicarakan organisasi sebagai suatu sistem, berarti memandangnya terdiri dari unsur-unsur yang saling bergantungan dan di dalamnya terdapat sub-sub sistem. Sedangkan struktur di sini mengisyaratkan bahwa di dalam organisasi terdapat suatu kadar formalitas dan adanya pembagian tugas atau peranan yang harus dimainkan oleh anggota-anggota kelompoknya.
Organisasi mempunyai ketergantungan ganda terhadap lingkungannya. Produk dan jasa yang merupakan out put organisasi dikonsumsi oleh pemakai yang terdapat pada pada lingkungannya. Di pihak lain, organisasi juga mendapatkan berbagai jenis input dari lingkungannya. Posisi organisasi menjadi berbahaya jika pertukaran input dan out put ini menjadi tidak seimbang. Input yang diperlukan oleh organisasi  sering kali sumbernya ikuasai oleh organisasi lain yang terdapat di lingkungannya, sehingga organisasi terpaksa mempunyai ketergantungan sumber terhadap lingkungannya. Jika tingkat ketergantungan ini tidak terlalu besar, seperti yang terjadi pada lingkungan Tenang-Acak, maka organisasi tidak perlu terlalu memperhatikan  lingkungannya dan dapat memusatkn pehatianny terhadap kegiatan produksi. Tetapi, jika ketergantungan ini sangat besar, organisasi perlu beradaptasi terhadap ketergantungan tersebut dan melakukan tindakan-tindakan yang sesuai untuk menguranginya. Terdapat dua cara adaptasi yang dapat dilakukan oleh organisasi. Cara pertama adalah melalui perubahan internal, yaitu dengan menyesuaikan struktur internal organisasi, pola kerja, perencanaan, dan aspek internal lainnya, trhadap karakteristik lingkungan. Cara kedua adalah dengan berusaha untuk menguasai dan mengubah kondisi lingkungan sehingga menguntungkan bagi organisasi.
Pengaruh lingkungan terhadap organisasi tersebut sebenarnya menjadi dasar filosofis perlunya perubahan organisasi. Jika pengaruh tersebut muncul sebagai akibat dari perkembangan Teknologi komunikasi misalnya  yang sebenarnya telah diakui sebagai elemen penting yang tidak hanya secara langsung berpengaruh terhadap prilaku organisasi tetapi juga terhadap organisasi secara keseluruhan maka perubahan dan pengaruh tersebut harus memperoleh respon dari organisasi. Penerapan teknologi informasi baru (TI) telah diakui sebagai intervensi yang dapat menyebabkan perubahan organisasi ( Orlikowski dan Robey , 1991) . Disinilah pentingnya sebuah organisasi untuk melakukan proses belajar agar organsiasi tersebut dapat beradaptasi dengan ketidakpastian baru dalam rangka mencapai manfaat perubahan diantisipasi ( Argyris , 1977; Gregor , 2006; Robey dan Sahay , 1996) . Misalnya , penerapan desain dibantu komputer dan manufaktur ( CAD / CAM ) sistem membutuhkan insinyur untuk secara kolektif mempelajari modus baru komunikasi , sehingga dapat menuai manfaat sistem ' memperpendek pengembangan produk waktu siklus (Black et al . , 2004 ) .
Pengaruh teknologi informasi di era globalisasi tidak bisa dipungkiri adanya di mana proses globalisasi yang berjalan begitu cepatnya disebabkan karena revolusi informasi yang berdampak pada perubahan cara berpikir (mindset) ataupun berperilaku (behaviour) pada organisasi. Saat ini sudah mulai banyak dari organisasi yang mengembangkan sistem informasi yang terintegrasi yang jika diaplikasikan dengan baik, maka akan dapat memberi dampak dan menghasilkan nilai tambah (added value) bagi organisasi itu sendiri. Sistem informasi yang digunakan misalanya melalui penggunaan eGovernment, dimana sistem ini dirancang dan dibuat untuk mendukung interaksi antara Pemerintah dan masyarkat, serta dunia bisnis untuk menciptakan efisiensi dan efektifitas kerja bagi organisasi pemerintah ataupun pemberian pelayanan terhadap masyarakat dan dunia bisnis.
E-Government sebagai salah satu bentukan baru dalam pelayanan organisasi publik kepada masyarakat adalah bentuk baru pengaruh eemen tekhnologi terhadap organisasi pemerintah. Organisasi publik telah mengakui pentingnya pembelajaran organisasi diharuskan oleh perubahan ( Mahler , 1997) seperti pengenalan teknologi baru melalui upaya e-Government . E-Government telah menjadi program prioritas lembaga pemerintah, baik di pusat maupun daerah di seluruh dunia, yang tidak hanya dipandang sebagai proyek yang menjadi trend di kalangan pemerintahan. E-Government yang dimaknai sebagai suatu bentuk penggunaan teknologi informasi (seperti Wide Area Network, Internet dan mobile computing) oleh pemerintah untuk mentransformasikan hubungan dengan masyarakat,  dunia  bisnis  dan  pihak  yang  berkepentingan (World Bank) yang berarti bahwa pemanfaatan teknologi informasi tersebut dalam rangka untuk meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Keuntungan yang diperoleh dari e-Government pada akhirnya bukan hanya sekedar menyediakan pelayanan online tetapi lebih luas daripada itu, karena kinerja sektor publik juga berkontribusi pada kemajuan ekonomi dan sosial suatu negara (Suaedi, 2010).
Di Indonesia E-Government telah diadopsi sejak tahun 2001 melalui Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2001 tentang Telematika (Telekomunikasi,   Media   dan   Informatika)   bahwa   aparat pemerintah harus menggunakan teknologi telematika untuk mendukung good governance  dan mempercepat  proses demokrasi. Hal ini bersesuaian dengan prinsip-prinsip paradigma baru new publik manajemen dan new public service  yang mengedepankan kualitas dan mutu pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Penegasan tentang urgensi e-Government juga didukung dengan Instruksi Presiden RI No.3 Tahun 2003 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government serta Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika  Nomor 126/M/KI/K/VI/2002 perihan Edaran Pendayagunaan Situs sebagai bentuk keseriusan pemerintah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi di dalam proses pemerintahan.
Pada dasarnya pelaksanaan e-Government mengacu pada aplikasi strategis TI penggunaan TI untuk menyediakan informasi bagi warga negara dan organisasi untuk memperoleh layanan lebih baik, dan bagi pemerintah untuk berinteraksi dengan mitra bisnis dan transaksi secara internal (Gronlund , 2002; Tung dan Rieck , 2005). Pemanfaatan e-Goverment ini tentu sangat membutuhkan proses penyesuaian organisasi baik individu maupun kelompok dalam organisasi tersebut. Pelaksanaan inisiatif e-Government sangat membutuhkan pembelajaran besar bagi organisasi publik, yang biasanya telah dianggap sebagai entitas birokrasi dengan budaya konservatif yang tahan terhadap perubahan ( Robertson dan Seneviratne , 1995) . Hal ini juga dikaitkan dengan e-readiness e-goverment yang di dalamnya membutuhkan fase pendidikan dan latihan bagi para aparatur pemerintah agar dapat menyesuaikan diri dengan model dan bentuk aktivitas kerja yang berubah karena pemerapan e-government.  Disamping itu organisasi publik karena pelaksanaan e-government menyebabkan semakin kompleksnya perubahan sehingga diperlukan pembelajaran terkait dengan keberhasilan eGovernment .
Disamping karena adanya perubahan dari iklim kerja dan prosedur kerja sebagai akibat dari pemanfaatan IT dalam konteks e-government maka mau tidak mau organisasi harus menumbuhkan dan menyadari betul pentingnya Learning Organization agar dapat memahami dan melakukan penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi. Robey dan Boudreau ( 1999) mengemukakan empat perspektif teoritis yang relevan yang terkait dengan IT dalam rangka perubahan organisasi yaitu politik organisasi, budaya organisasi, teori kelembagaan dan organisasi belajar .
Realitas masalah yang muncul sebagaiakibat dari pelaksanaan e-government dengan learning organization maka studi ini berfokus bagaimana tingkat kesuksesan e-Government dalam rangka untuk meningkatkan efisiensi internal organisasi publik di Kabupaten Maros dengan menjalankan program learning individu dan learning organization. Berdasarkan realitas yang ada bahwa jika aparatur pemerintah dalam organisasi publik tidak memeiliki pendidikan dan latihan untuk memenuhi kompotensinya agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan organsiasi maka pelaskanaa e-government tidak dapat berjalan dengan baik.

 

Teori Lewis: Perkembangan Ekonomi dan Penawaran Tenaga Kerja

Tenaga Kerja
TEORI LEWIS: PERKEMBANGAN EKONOMI DAN PENAWARAN TENAGA KERJA YANG TIDAK TERBATAS.

Dalam pendahuluan analisisnya Lewis menyatakan tujuan dari teori mengenai proses pembangunan yang khusus diperuntukkan bagi negara yang menghadapi masalah kelebihan tenaga kerja. Ia menyatakan ketidakpuasannya terhadap teori yang berkembang sesudah masa ahli-ahli ekonomi Klasik (ahli ahli ekonomi yang membuat analisis di antara bagian kedua abad ke-18 hingga bagian kedua abad ke-19), yaitu teori Neo-Klasik dan general teory-nya Keynes, karena kedua teori tersebut tidak sesuai dengan keadaan yang ada di negara berkembang. Analisis Neo-Klasik bertolak dari pandangan bahwa penawaran tenaga kerja dalam masyarakat tidak berlibihan. Sedangkan analisis Keynes bertolak dari anggapan bahwa bukan saja terdapat penawaran tenaga kerja yang berlibih, tetapi juga tanah yang tersediah dan kapasitas memproduksi jumlahnya tidak terbatas. Keadaan ini bertentangan dengan keadaan yang tedapat di negara berkembang. Lewis mengnggap di banyak negara berkembang terdapat tenaga kerja yang berlebih, akan tetapi sebaliknya menghadapi masalah kekurangan modal, dan kelusan tanah yang belum digunakan sangat terbatas.

Masalah Kelebihan Tenaga Kerja

Lewis tidak menyangkal bahwa beberapa negara berkembang, seperti di negara-negara  Afrika dan Amerika Latin, terdapat masalah kekurangan tenaga kerja. Akan tetapi di banyak negara berkembang lainnya, India, Mesir, Jamaika, dan negara kita sendiri, terdapat tenaga kerja yang berlebih. Di negara ini jumlah penduduk tidak seimbang jika dibandingkan modal dan kekayaan alam yang tersedia, dan sebagai akibat dari keadaan ini terdapat kegiatan-kegiatan ekonomi yang produktivitasnya sangat kecil, atau nol. Maka apabila sebagian dari pekrja dalam kegiatan tersebut dipindahkan ke kegiatan lain, produksi dalam sektor yang pertama tidak akan menurun. Di sektor pertanian, tanah yang dimiliki kebanyakan petani luasnya sangat terbatas sehingga sebagian anggota keluarga dapat bekerja pada kegiatan lain tanpa mengurangi produksi keluarga tersebut. Juga di beberapa jenis kegiatan jasa terdapat pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan oleh jumlah pekrja yang melebihi daripada yang sebenarnya diperlukan.
Kelebihan tenaga kerja tersebut merupakan pengangguran terselubung yang dapat dialihkan dan digunakan sektor lain tanpa mengurangi produksi di sektor di mana pada mulanya para penganggur  tersebut barada. Selain itu masih terdapat beberapa sumber lain untuk tambahan tenaga kerja yang diperlukan oleh sektor yng berkembang, yaitu: kaum wanita yang bekerja dalam keluarga atau rumah tangganya sendiri, pertambahan penduduk dari masa ke masa, dan pengangguran baru yang diciptakan oleh pertambahan efisiensi. Sumber-sumber tenaga kerja ini memungkinkan negara yang menghadapi masalah kelebihan penduduk mengembangkan industi-industri baru dan kegiatan-kegiatan ekonomi baru lainnya tanpa mengalami kekurangan tenaga kerja yang tidak terdidik. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa penawaran tenaga kerja tidak terbatas. Pada mulanya akan dihadapi masalah kekurangan tenaga kerja terampil dan terdidik, tetapi dalam jangka panjang hal ini dapat diatasi dengan memperluas pendidikan. Dengan demikian hambatan pembangunan yang terutama adalah kekurangan modal dan kekayaan alam yamg terbatas.

(Disadur dari Buku Sukirno, 2006)

 

Birokrasi dalam persfektif Pemerintahan

Birokrasi dalam persfektif Pemerintahan

Birokrasi dalam persfektif pemerintahan merujuk kepada sebuah prosedur-prosedur administrasi, yang di dalam terkait langsung dengan aspek institusional dan asosional. Prosedur tersebut tidak terlepas dari aspek managemen (perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, koordinasi, resolusi konflik dst) Dengan demikian birokrasi dalam persefektif ini sesungguhnya mengarah kepada bagaimana mewujudkan prosedur tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen dalam rangka pencapaian tujuan. Secara spesifik jika menilik fungsi dari birokrasi sebagai suatu prosedur penyelenggaraan dan penyelesaian tugas yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh konstitusi. Tugas-tugas konstitusi tersebut termasuk di dalamnya adalah menyelesaikan program pembangunan, pemberian pelayanan publik dan implementasi kebijakan pemerintah.
Pandangan beberapa yang terkait dengan birokrasi dalam kaitannya dengan pemerintahan seperti dikemukakan oleh Hegel, bahwa birokrasi hendaknya memberikan pelayanan untuk memenuhi kepentingan umum, yang berarti bahwa birokrasi tidak boleh memberikan pelayanan yang hanya dapat menguntungkan sekelompok orang atau kelompok. Dalam konteks ini maka Birokrasi menjadi menjembatan jembatan penghubung antara negara, yang merefleksikan kepentingan umum dengan civil society yang bersumber dari kepentingan khusus dalam masyarakat.
Sekaitan dengan hal ini, juga dapat mengadopsi pandangan Birokrasi Rasional Weber dengan ciri impersonal, hirarki, job description, kontrak, kualifikasi profesional, upah/gaji dan disiplin. Dalam konteks pemerintahan maka birokrasi rasional weber mengedepankan kedudukan badan pemerintah yang melaksanakan fungsi-fungsi manajemen pemerintahan, penetapan kebijakan publik, bersikap netral dan profesional, melaksanakan etika birokrasi dan tata pemerintahanan yang baik (Transparansi, akuntabilitas, dan partisipatif).
Birokrasi merupakan faktor penentu utama keberhasilan keseluruhan agenda pemerintahan selain masyarakat dan swasta. Di negara dan pemerintahan manapun anggota birokrasi disebut sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dengan predikatnya diharapkan dan dituntut untuk menampilkan perilakunya yang bersih sebagai penyelenggara pemerintah, pelaksana pembangunan dan pembina kemasyarakatan.

 

Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian:


Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian: 
Sebuah Agenda untuk Penelitian
George A. Boyne, Kenneth J. Meier, Laurence J. O’Toole, Jr. dan  Richard M. Walker

Pengantar Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian
Bagaimana meningkatkan kinerja pelayanan publik?
Pertama, bagaimana cara yang tepat untuk mengukur kinerja organisasi publik? Kedua, seberapa besar peran manajemen dalam meningkatkan atau menghambat kinerja? Ketiga, bagaimana konteks dari program-program dan organisasi-organisasi, baik di bidang politik maupun keorganisasian, menciptakan kontingensi yang dapat meningkatkan atau menekan berbagai faktor penentu dari kinerja?

Teori
Teori ditandai dengan presisi dan melalui generasi proposisi sehingga akan membuat temuan empiris ke dalam bentuk yang koheren dan jelas, dan juga akan menunjukkan jalan menuju penelitian masa depan. Teori harus dibangun dengan kuat dan dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat diterjemahkan menjadi suatu penambahan studi empiris.

Manajemen Publik sebagai agenda Penelitian

Beberapa Kelemahan Teori dalam manajemen publik diantaranya adalah (1) Penelitian bersifat diskursif dan spekulatif tanpa tes empiris yang sistematis, dan tanpa petunjuk-petunjuk yang empiris. Selain itu kebanyakan Cakupan deskriptif Konstruksi teori tidak memuat argumen logis yang kuat, untuk menghasilkan hipotesis.
ContohGagasan teori ekonomi Choi dan Heinrich tentang efisiensi sebagai nilai yang kecil dalam memprediksi atau menjelaskan kinerja sistem kontrak pemerintah, Prinsip Provan, Milward dan Analisis dokumen Asett yang digunakan dalam memahami kinerja 
Syarat Teori yang baik dalam Manajemen Publik

  1. Teori yang tepat, memiliki suatu karakteristik yang berguna dalam penyelidikan manajemen publik dan peranannya dalam penyediaan layanan publik. 
  2. Memiliki presisi dan selalu berusaha untuk memperoleh kesetaraan.  
  3. Memiliki variabel dan implikasi yang kompleks sehingga perlu dikurangi jumlah variabel dan fokus 
  4. Membatasi hubungan yang sederhana, linear , dan aditif antar variabel. 
  5. (O'TToole dan Meier 1999), Memilih pada fokus yang menunjukkan hasil yang produktif dalam bentuk pertanyaan empiris. 
  6. Untuk menghindari pemalsuan data pada analissi perlu mengurangi variabel yang di uji statistik. 

Selain itu juga Teori harus didasarkan pada klasifikasi yang tepat dari suatu studi yang masih berlaku.
Rancangan teori yang baik mengidentifikasi dan mengklasifikasi informasi untuk menentukan hubungan dan bentuk fungsional dari hubungan tersebut,.

  1. Mengidetifikasi fitur-fitur (indikator) Pelayanan publik
    Pelayanan publik yang dapat mempengaruhi variabel seperti manajemen yang dapat meningkatkan kinerja keorganisasian. Contoh: Penelitian Kinerja kesehatan, kinerja dalam otoritas lokal Welsh, lembaga federal AS, pemerintah nasional Australia, negara bagian Wisconsin, sekolah di distrik-distrik Texas, serta dalam bentuk eksplisit lintas nasional dalam bidang pendidikan dan e-government menunjukkan bahwa tidak hanya kinerja keorganisasian yang bervariasi dalam konteks perbedaan dan lokasi kejadian, tetapi bahwa hubungan antar variabel diharapkan dapat bervariasi pada subjek kontingensi. 
  2. Prediksi yang tepat terhadap Manajemen publik,
    Misalnya, reformasi New Public Management yang akan dilakukan di negara ini, tapi tidak di negara yang lain. Kita perlu untuk menentukan karakteristik atau kontingensi yang mempengaruhi hubungan antara manajemen atau faktor-faktor lain dengan kinerja pelayanan publik.     Teori tersebut harus memiliki presisi untuk dapat menentukan bahwa, misalnya, gaya manajemen yang melibatkan jaringan kerja dengan pelaku-pelaku eksternal akan meningkatkan hubungan positif antara sumber daya dan kinerja.
  3. Ilustrasi kontingensi (Situasional)
    Beberapa teori telah mengungkapkan bahwa manajemen mempengaruhi kinerja melalui serangkaian interaksi non-linieritas (O'Toole dan Meier 1999), dan bukti dalam buku ini menunjukkan non-linearities tertentu yang tampaknya telah menjadi sebuah karya. Beberapa di antaranya, seperti kegiatan “Red Tape” birokrasi dan kinerja oleh Pandey dan Moynihan, tidak hanya menegaskan pentingnya suatu kontingensi, tetapi juga menunjukkan adanya kebijaksanaan konvensional, yang dalam hal ini mengenai efek negatif kinerja yang ditimbulkan dari adanya pita merah birokrasi. 

Dengan demikian perlu membangun Infrastruktur Intelektual yang menyangkut kinerja pelayanan publik
Kami menawarkan tiga proposal:

  • dua yang bisa dimanfaatkankan pada studi individu dan juga pada penelitian umum masyarakat dengan meningkatkan sistematika fokus tentang pengukuran dan menghasilkan varians melalui pendekatan-pendekatan metodologis, 
  • satu yang dapat menghasilkan manfaat, terutama untuk investasi masyarakat yang lebih luas.

Kinerja Keorganisasian: Sebuah Agenda untuk Penelitian

Setiap ukuran empiris dari Pengukuran Kinerja terdiri dari dua bagian, yaitu;

  1. nilai sebenarnya dari konsep yang sedang diukur dan 
  2. beberapa kesalahan dari hasil pengukuran seperti bias baik mengenai diskriminasi ras (Andrews dkk. 2005) atau mencerminkan kepentingan diri manajer (Brewer) juga ujian standarisasi tidak sepenuhnya mengukur hal yang menyangkut pendidikan (Smith 2003), 

Pengukuran Kinerja bersifat objective
Pengukuran Objektif menggunakan Efek instrumentasi, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur berbagai interaksi kinerja dengan berbagai proses organisasi yang dapat memperjelas pengukuran mengenai kinerja.
Efek instrumentasi umum adalah perpindahan tujuan, sebagai organisasi tentunya berusaha untuk menghasilkan berbagai sistem akuntabilitas dan mengabaikan berbagai aspek pekerjaan yang tidak diukur oleh sistem akuntabilitas tersebut (Blau 1956).

Disfungsi Pengukuran (indikator) Kinerja Organisasi Secara Objektif

  1. Ketidakjujuran; menafsirkan jumlah pada pemilihan kasus-kasus pada suatu lembaga untuk mengukur kinerja staf akan menghasilkan angka-angka yang memungkinkan salah (Blau 1956), atau melaporkan data yang salah (Bohte dan Meier 2000). 
  2. Ada pengaruh tekanan politik ketika para pejabat politik berusaha untuk mencampuri program yang dilakukan.
  3. Boyne (2002) mengidentifikasi dimensi kinerja organisasi publik yang meliputi; kejujuran, partisipasi, akuntabilitas, dan biaya per unit dari hasil demokrasi (Moynihan dan Ingraham 2003). 
  4. Bidang Pemerintahan menggunakan data kinerja untuk membuat kebijakan, (Ingraham 2005). 
  5. Indikator kinerja hanyalah sebatas informasi umpan balik untuk pengambilan keputusan. 
  6. Pengendalian kinerja tergantung dari manajemen. Kenis menunjukkan bahwa "kontrol lembaga" tidak dapat diabaikan dalam pengendalian kinerja

Manajemen Publik 
Variabel Manajemen paling mempengaruhi kinerja yang terkait dengan fungsi-fungsi manajerial
Variabel manajemen masih jarang diteliti berkaitan dengan kinerja karena dampak dari bias disiplin ilmu ekonomi (berfokus pada insentif dan hasil) dan ilmu politik (berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan eksternal pada tiap unit organisasi). Sebelum manajemen publik dapat menjadi suatu desain ilmu yang benar (Simon 1996), di mana salah satu tujuannya untuk meningkatkan kinerja, pertama-tama kita harus mampu mengukur aspek-aspek yang relevan pada sistematika manajemen baik besar maupun kecil, yang dapat diandalkan dan valid

Manajemen Sumber Daya Manusia
Praktek manajemen dapat memotivasi karyawan, mengurangi pergantian karyawan, dan mungkin mempengaruhi kinerja secara keseluruhan (Rainey 2003).

Dalam Penelitian praktek Manajemen perlu

  1. Mengembangkan ukuran efisien 
  2. Mengembangkan seperangkat langkah-langkah manajemen sumber daya manusia yang berlaku umum. 
  3. Menganalisis secara sistematis kinerja organisasi, 
  4. Memanipulasi variabel yang berkaitan dengan kinerja pelayanan publik.

Beberapa Pendekatan dalam Penelitian Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian

  1. Melalui metode empiris, melalui Studi kualitatif dan Kuantitatif
  2. Metode eksperimental, meskipun akan sulit menggeneralisasi menurut Whitford dan Miller (2002)  
  3. Metode Survei oleh Chin dkk. 2000 dalam organisasi-organisasi politik
  4. Menggunakan studi empiris, simulasi komputer untuk menilai perbedaan taktik manajerial. 
  5. Pemodelan matematika, untuk melihat implikasi dari argumen teoritis atau bahkan untuk menunjukkan validitas logis dari suatu teori (O'Toole dan Meier 1999, March dan Simon 1958)

Catatan
Singkatnya, studi sistematis menyangkut kinerja pelayanan publik tidak akan banyak memiliki kemajuan tanpa peningkatan yang signifikan dalam studi manajemen publik. 
Seperangkat Data Hybrid
Ilmu manajemen publik tidak tersedia data secara luas, sehingga perlu ada data campuran karena:

  • Pemerintah memberikan sumber data tentang indikator kinerja, tetapi sedikit dan tidak ada hubungan dengan ukuran manajemen. 
  • Sumber data dari perangkat struktur organisasi yang tidak terdokumentasikan secara jelas sehingga Data arsip atau perangkat pemerintah tersebut perlu digabung dengan data survei struktur manajemen, kemudian menambah dan menggabungkan variabel-variabel lainnya. 
  • Data-data gabungan tersebut perlu dilengkapi dengan wawancara, kunjungan lapangan dan pengumpulan data melalui metode kualitatif untuk memberikan penjelasan dan menemukan adanya hubungan. 
  • Untuk membangun teori dalam bidang manajemen publik dan kinerja organisasi, dengan data campuran maka perlu dianalisis triangulasi untuk membuat pernyataan kausal yang meyakinkan, untuk menarik kesimpulan dan rekomendasi 

Metode-metode penelitian Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian
Pada pembahasan ini akan fokus pada tiga item metode, yaitu; kausalitas, non linearitas, dan berbagai masalah yang terkait dengan beberapa tujuan dalam sebuah organisasi, program tunggal, atau jaringan kerja.
Kausalitas. Analisis Kausalitas digunakan untuk mengubah faktor-faktor yang akan meningkatkan kinerja, bukan hanya untuk menjelaskan kinerja.
Suatu perubahan dalam variabel independen secara konsisten akan menghasilkan perubahan berikutnya dalam variabel dependen hanya jika hubungan kausal itu ada.
Non-Linearitas

  1. bentuk fungsional, berupa pertanyaan apakah ada atau tidak ada hubungan antara dua variabel yang dirangkum oleh garis lurus atau dengan perkiraan non linier. 
  2. variabel mungkin berinteraksi satu sama lain dan dalam proses menghasilkan hubungan yang sangat berbeda untuk beberapa organisasi. 
  3. hubungan antara dua variabel mungkin berbeda-beda pada tiap organisasi atau pada organisasi yang sama pada waktu yang berbeda.

Beberapa Tujuan yang Saling Terkait
Tujuan penelitian Mungkin jenis metode yang paling bermanfaat dari penelitian ini adalah bagaimana perubahan kinerja pada program A dibandingkan dengan perubahan kinerja pada program B dan bagaimana rasio ini dapat dijelaskan oleh variabel lain. Jenis analisis program elastisitas pada dasarnya akan menciptakan variabel dependen baru dari tahun ke tahun perubahan dalam berbagai program. Analisis seperti juga bisa menentukan desain sistem di mana program kinerja pada satu tujuan menghasilkan eksternalitas positif untuk tujuan-tujuan yang lainnya.
Desain struktural yang mempengaruhi kinerja,
a. sentralisasi yang bertentangan dengan desentralisasi,
b. produksi bersama,
c. rentang kendali,
d. pencampuran berbagai tipe karyawan,
e. jumlah kantor-kantor lapangan
Struktur program adalah variabel yang hilang dalam studi kinerja organisasi. Aspek ini hanya satu di antara banyak dimensi pada struktur yang mungkin berhubungan dengan kinerja. Provan dan Milward (1995), misalnya, jaringan-jaringan kerja tampil lebih baik ketika mereka mengambil beberapa aspek struktural hirarki yang lebih tradisional.

Kesimpulan
Peneliti peduli akan kinerja, tetapi tidak menjadikannya sekedar pemikiran akan suatu estetika atau intelektual berpikir, akan tetapi karena menyangkut hasil-hasil pelayanan publik dan memiliki nilai-nilai publik.
Sebagai konsekuensinya, bila terfokus pada peningkatan pelayanan publik, maka perlu menangani beberapa metode pertanyaan dari perspektif yang agak terpisah dari ilmu sosial lainnya.
Meningkatkan pelayanan publik berarti meningkatkan nilai-nilai publik, melibatkan perbaikan-perbaikan desain. Sebagai ilmu desain, manajemen publik perlu menerapkan teknik baru yang dikembangkan untuk menentukan bagaimana memperkuat dampak kinerja.
Demikian pula, beberapa perbaikan metodologis dapat mendapatkan pengaruh pada masalah kontingensi dan non linearities yang jelas merupakan bagian penting dari suatu pemecahan masalah.
Metode canggih lainnya juga dapat membawa perbaikan praktis yang memungkinkan kita untuk menilai prospek dan tingkat sebuah tujuan atau, sebaliknya, sinergi dalam berbagai program publik yang lebih kompleks.

 
 
Support : Creating Website | Jay Template | uak sena
Copyright © 2011. Administrasi Publik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger