Definisi Penelitian Kualitatif

Apa penelitian Kualitatif itu?
Dalam memahami penelitian kualitatif perlu dipahami sebelumnya tentang pengertian metodologi penelitian. Pengertian Konsep dasar “penelitian kualitatif” Jerome Kirk & Mare L. Miller dalam buku: “Reliability and Validity  In  Qualitative Research”  menyatakan bhw pada mulanya penelitian kualitatif bersumber  pada “pengamatan kualitatif”  yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitative yang melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu.  Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan,  pengamat harus mengetahui apa ciri dari sesuatu yang diamati  itu.

Berdasarkan pertimbangan dangkal itu pengamat mulai mencatat dan  menghitung  dari satu, dua, tiga dan seterusnya, kemudian peneliti  menyatakan  bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap jenis penelitian yang didasarkan pada perhitungan persentase, rata-rata, Chi Kuandrat, dan perhitungan statis tik lainnya. Dengan kata lain bahwa penelitian kuantitatif  melibatkan  diri  pada  “perhitungan” atau “angka” atau “kuantitas”.
Di pihak lain “kualitas”  menunjuk pada segi “alamiah” yang dipertentangkan dgn. “kuantum” atau “jumlah”.  Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif diartikan sebagai: “PENELITIAN YANG TIDAK MELAKUKAN PERHITUNGAN”. Ada beberapa istilah yang terkait dengan penelitian kualitatif, yaitu : inquiry, naturalistik, etnografi, intraksionis simbolik, perspektif ke dalam,  ethnometodologi,  the Chicago School, fenomenologis, studi kasus, interpretatif, ekologis, dan deskriptif. (Lihat Bogdan dan Biklen, 1982).

Pemakai istilah “inkuiri alamiah” atau “naturalistic inquiry”, kurang setuju dengan penggunaan istilah “penlitian kualitatif”  karena istilah tersebut terlalu menyederhanakan makna penelitian kualitatif itu sendiri, yang sering dipertentangkan dengan istilah “peneitian kuantitatif”.
Alasan pemakai istilah “inkuiri alamiah”  sebenarnya hanya alasan pembenaran atas istilah “inkuiri alamian” (naturalistic inguiry).
  
Definisi “Penelitian Kualitatif”
Di samping definisi “metodologi penelitian” secara umum, dikemukakan pula definisi secara khusus “metodologi penelitian kualitatif”, karena metodologi penelitian itu sangat beragam  bentuk pelaksanaanya, baik karena  perbedaan  sifat  obyeknya,  teknik  dan prosedur  kerjanya,  maupun  karena  perbedaan paham filsafat yang mendasarinya.
Misalnya :  penelitian  yang  meneliti gejala (fenomenologi / fenomenografi), berbeda dengan penelitian yang mengkaji budaya  (cultural studies, etnologi/etnografi), cintent analisis, hermeneutik, semiotik, dan lain-lain. 
Berikut  ini  dikemukakan beberapa definisi metodologi penelitian kualitatif:
  • Taylor (1975), menyatakan bahwa “Metodologi penelitian kualitatif” seagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa  kata-kata  tertulis  atau  lisan  dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati. Menurut Taylor,  pendekatan  ini  diarahkan ada  latar  individu  secara  utuh  (holistik) dan tidak  boleh  mengisolasi individu atau organisasi  ke dalam  variabel dan menyikapinya sebagai bagian Dari suatu titalitas.
  • Jerome Kirk & Mare L. Miller (1086), menyatakan bahwa  : “Penelitian kualitatif adalah tradisi tortentu dalam ilmu sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan kepada manusia dalam kawasannya sendiri  dan  berhubungan dengan orang2 tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya”  
Selanjunya pengkajian definisi oleh pengikut “inkuiri alamiah”  dilakukan oleh Willem dan Rauch (1969), yang diulas oleh Cuba, dan selanjutnya diterjemahkan oleh Sutan Santi Arbi, menyimpulkan hal-hal berikut:
  • Inkuiri naturalistik selalu meupakan suatu “taraf”. Taraf (sejauh mana tingkat pengkajian adalah naturalistik) merupakan fungsi sesuatu yang dilakukan oleh peneliti.
  • Hal yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan stimulus variabel2 bebas atau kondisi anteseden yang merupakan dimensi yang sangat penting.
  • Dimensi  penting lainnya yaitu apa yang dilakukan oleh peneliti dalam membatasi rentang respon dan keluaran subyek.
Inkuiri naturalistik tidak mewajibkan peneliti  untuk  terlebih  dahulu membentuk konsepsi-konsepsi  atau  teori-teori mengenai lapangan penelitiannya.  Bahkan sebaliknya  ia dapat mendekati  lapangan  perhatiannya  dengan pikiran yang murni dan memperkenankan interpretasi2 nya muncul dan dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa nyata dan bukan sebaliknya. Walaupun  demikian, suatu pendekatan yang secara konseptual tidak tepat dan merupakan sesuatu yang naif.

Istilah “naturalistik” adalah istilah yang memodifikasi penelitian atau metode, tetapi tidak memodifikasi gejala-gjala. Hal ini berarti metodelah yang harus disesuaikn pada gejala sedang gejala tidak boleh diintervensi.

Untuk mengkaji lebih lanjut istilah “penelitian kualitatif”,  berikut ini dikemukakan beberapa definisi :
  • Taylor (1975:5) menyatakan bahwa : “Metodologi kualitatif sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat diamati”. Menurut  beliau  bahwa  pendekatan  ini diarahkan  pada  latar individu secara utuh (holistik) dan tidak boleh mengisolasi individu atau organisasi ke dalam variabel dan menyikapinya sebagai bagian dari suatu totalitas (keseluruhan).          
  • Jerome Kirk & Mare L. Miller, dalam buku  “Validity and Realiability in Qualitative Research” (1986) menyatakan bahwa “Penelitian kualitatif  adalah tradisi tertentu dalam ilmu sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan kepada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya  dan dalam peristilahannya”.

Selanjutnya pengkajian definisi oleh pengikut “inkuiri alamiah” telah dilakukan  oleh Willem dan Rauch (1969),  yang  kemudian diulas oleh Cuba, dan  selanjutnya diterjemahakan oleh  Sutan Santi Arbi,  menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
  • Inkuiri naturalistik selalu adalah  suatu taraf.
  • Taraf  (sejauh mana tingkat pengkajian adalah naturalistik),  merupakan fungsi sesuatu  yang  dilakukan  oleh  peneliti,
  • Hal yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan stimulus variabel-variabel  bebas atau kondisi anteseden yang merupakan dimensi yang sangat penting.
  • Dimensi penting lainnya yaitu apa yang dilakukan oleh peneliti dalam membatasi rentang respon dari keluaran subyek.
Ikuiri naturalistik tidak mewajibkan peneliti untuk terlebih dahulu membentuk konsepsi-konsepsi atau teori-teori mengenai lapangan perhatiannya.  Bahkan  sebaliknya ia dapat mendekati lapangan perhatiannya dengan  pikiran murni dan memperkenankan interpretasi-interpretasinya  muncul dari  dan  dipengaruhiu  oleh peristiwa-peristiwa nyata dan bukan sebaliknya. Walaupun demikian, suatu pendekatan  yang secara konseptual, tidaklah tepat dan adalah sesuatu yang naif.

Istilah naturalistik merupakan istilah yang memodifikasi penelitian  atau  metode, tetapi  tidak memodifikasi gejala-gejala. Hal ini  berarti bahwa penelitian atau  metodelah yang harus disesuaikan pada gejala sedang gejala tidak boleh diintervensi.

Kesimpulan-kesimpulan di atas memberikan gambaran bahwa penelitian kalitatif memiliki sifat yang khas.
Share this article :
 

+ comments + 3 comments

5 January 2013 19:20

makasih share mengenai pengetahuan definisi penelitian nya.. lam sukses

12 February 2013 07:17

iyya ma kasih kembali

24 February 2014 06:51

thanks ya pak.. bermamfaat skali,

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Jay Template | uak sena
Copyright © 2011. Administrasi Publik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger