Latest Post

Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian:


Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian: 
Sebuah Agenda untuk Penelitian
George A. Boyne, Kenneth J. Meier, Laurence J. O’Toole, Jr. dan  Richard M. Walker

Pengantar Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian
Bagaimana meningkatkan kinerja pelayanan publik?
Pertama, bagaimana cara yang tepat untuk mengukur kinerja organisasi publik? Kedua, seberapa besar peran manajemen dalam meningkatkan atau menghambat kinerja? Ketiga, bagaimana konteks dari program-program dan organisasi-organisasi, baik di bidang politik maupun keorganisasian, menciptakan kontingensi yang dapat meningkatkan atau menekan berbagai faktor penentu dari kinerja?

Teori
Teori ditandai dengan presisi dan melalui generasi proposisi sehingga akan membuat temuan empiris ke dalam bentuk yang koheren dan jelas, dan juga akan menunjukkan jalan menuju penelitian masa depan. Teori harus dibangun dengan kuat dan dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat diterjemahkan menjadi suatu penambahan studi empiris.

Manajemen Publik sebagai agenda Penelitian

Beberapa Kelemahan Teori dalam manajemen publik diantaranya adalah (1) Penelitian bersifat diskursif dan spekulatif tanpa tes empiris yang sistematis, dan tanpa petunjuk-petunjuk yang empiris. Selain itu kebanyakan Cakupan deskriptif Konstruksi teori tidak memuat argumen logis yang kuat, untuk menghasilkan hipotesis.
ContohGagasan teori ekonomi Choi dan Heinrich tentang efisiensi sebagai nilai yang kecil dalam memprediksi atau menjelaskan kinerja sistem kontrak pemerintah, Prinsip Provan, Milward dan Analisis dokumen Asett yang digunakan dalam memahami kinerja 
Syarat Teori yang baik dalam Manajemen Publik

  1. Teori yang tepat, memiliki suatu karakteristik yang berguna dalam penyelidikan manajemen publik dan peranannya dalam penyediaan layanan publik. 
  2. Memiliki presisi dan selalu berusaha untuk memperoleh kesetaraan.  
  3. Memiliki variabel dan implikasi yang kompleks sehingga perlu dikurangi jumlah variabel dan fokus 
  4. Membatasi hubungan yang sederhana, linear , dan aditif antar variabel. 
  5. (O'TToole dan Meier 1999), Memilih pada fokus yang menunjukkan hasil yang produktif dalam bentuk pertanyaan empiris. 
  6. Untuk menghindari pemalsuan data pada analissi perlu mengurangi variabel yang di uji statistik. 

Selain itu juga Teori harus didasarkan pada klasifikasi yang tepat dari suatu studi yang masih berlaku.
Rancangan teori yang baik mengidentifikasi dan mengklasifikasi informasi untuk menentukan hubungan dan bentuk fungsional dari hubungan tersebut,.

  1. Mengidetifikasi fitur-fitur (indikator) Pelayanan publik
    Pelayanan publik yang dapat mempengaruhi variabel seperti manajemen yang dapat meningkatkan kinerja keorganisasian. Contoh: Penelitian Kinerja kesehatan, kinerja dalam otoritas lokal Welsh, lembaga federal AS, pemerintah nasional Australia, negara bagian Wisconsin, sekolah di distrik-distrik Texas, serta dalam bentuk eksplisit lintas nasional dalam bidang pendidikan dan e-government menunjukkan bahwa tidak hanya kinerja keorganisasian yang bervariasi dalam konteks perbedaan dan lokasi kejadian, tetapi bahwa hubungan antar variabel diharapkan dapat bervariasi pada subjek kontingensi. 
  2. Prediksi yang tepat terhadap Manajemen publik,
    Misalnya, reformasi New Public Management yang akan dilakukan di negara ini, tapi tidak di negara yang lain. Kita perlu untuk menentukan karakteristik atau kontingensi yang mempengaruhi hubungan antara manajemen atau faktor-faktor lain dengan kinerja pelayanan publik.     Teori tersebut harus memiliki presisi untuk dapat menentukan bahwa, misalnya, gaya manajemen yang melibatkan jaringan kerja dengan pelaku-pelaku eksternal akan meningkatkan hubungan positif antara sumber daya dan kinerja.
  3. Ilustrasi kontingensi (Situasional)
    Beberapa teori telah mengungkapkan bahwa manajemen mempengaruhi kinerja melalui serangkaian interaksi non-linieritas (O'Toole dan Meier 1999), dan bukti dalam buku ini menunjukkan non-linearities tertentu yang tampaknya telah menjadi sebuah karya. Beberapa di antaranya, seperti kegiatan “Red Tape” birokrasi dan kinerja oleh Pandey dan Moynihan, tidak hanya menegaskan pentingnya suatu kontingensi, tetapi juga menunjukkan adanya kebijaksanaan konvensional, yang dalam hal ini mengenai efek negatif kinerja yang ditimbulkan dari adanya pita merah birokrasi. 

Dengan demikian perlu membangun Infrastruktur Intelektual yang menyangkut kinerja pelayanan publik
Kami menawarkan tiga proposal:

  • dua yang bisa dimanfaatkankan pada studi individu dan juga pada penelitian umum masyarakat dengan meningkatkan sistematika fokus tentang pengukuran dan menghasilkan varians melalui pendekatan-pendekatan metodologis, 
  • satu yang dapat menghasilkan manfaat, terutama untuk investasi masyarakat yang lebih luas.

Kinerja Keorganisasian: Sebuah Agenda untuk Penelitian

Setiap ukuran empiris dari Pengukuran Kinerja terdiri dari dua bagian, yaitu;

  1. nilai sebenarnya dari konsep yang sedang diukur dan 
  2. beberapa kesalahan dari hasil pengukuran seperti bias baik mengenai diskriminasi ras (Andrews dkk. 2005) atau mencerminkan kepentingan diri manajer (Brewer) juga ujian standarisasi tidak sepenuhnya mengukur hal yang menyangkut pendidikan (Smith 2003), 

Pengukuran Kinerja bersifat objective
Pengukuran Objektif menggunakan Efek instrumentasi, yaitu alat yang digunakan untuk mengukur berbagai interaksi kinerja dengan berbagai proses organisasi yang dapat memperjelas pengukuran mengenai kinerja.
Efek instrumentasi umum adalah perpindahan tujuan, sebagai organisasi tentunya berusaha untuk menghasilkan berbagai sistem akuntabilitas dan mengabaikan berbagai aspek pekerjaan yang tidak diukur oleh sistem akuntabilitas tersebut (Blau 1956).

Disfungsi Pengukuran (indikator) Kinerja Organisasi Secara Objektif

  1. Ketidakjujuran; menafsirkan jumlah pada pemilihan kasus-kasus pada suatu lembaga untuk mengukur kinerja staf akan menghasilkan angka-angka yang memungkinkan salah (Blau 1956), atau melaporkan data yang salah (Bohte dan Meier 2000). 
  2. Ada pengaruh tekanan politik ketika para pejabat politik berusaha untuk mencampuri program yang dilakukan.
  3. Boyne (2002) mengidentifikasi dimensi kinerja organisasi publik yang meliputi; kejujuran, partisipasi, akuntabilitas, dan biaya per unit dari hasil demokrasi (Moynihan dan Ingraham 2003). 
  4. Bidang Pemerintahan menggunakan data kinerja untuk membuat kebijakan, (Ingraham 2005). 
  5. Indikator kinerja hanyalah sebatas informasi umpan balik untuk pengambilan keputusan. 
  6. Pengendalian kinerja tergantung dari manajemen. Kenis menunjukkan bahwa "kontrol lembaga" tidak dapat diabaikan dalam pengendalian kinerja

Manajemen Publik 
Variabel Manajemen paling mempengaruhi kinerja yang terkait dengan fungsi-fungsi manajerial
Variabel manajemen masih jarang diteliti berkaitan dengan kinerja karena dampak dari bias disiplin ilmu ekonomi (berfokus pada insentif dan hasil) dan ilmu politik (berkaitan dengan faktor-faktor lingkungan eksternal pada tiap unit organisasi). Sebelum manajemen publik dapat menjadi suatu desain ilmu yang benar (Simon 1996), di mana salah satu tujuannya untuk meningkatkan kinerja, pertama-tama kita harus mampu mengukur aspek-aspek yang relevan pada sistematika manajemen baik besar maupun kecil, yang dapat diandalkan dan valid

Manajemen Sumber Daya Manusia
Praktek manajemen dapat memotivasi karyawan, mengurangi pergantian karyawan, dan mungkin mempengaruhi kinerja secara keseluruhan (Rainey 2003).

Dalam Penelitian praktek Manajemen perlu

  1. Mengembangkan ukuran efisien 
  2. Mengembangkan seperangkat langkah-langkah manajemen sumber daya manusia yang berlaku umum. 
  3. Menganalisis secara sistematis kinerja organisasi, 
  4. Memanipulasi variabel yang berkaitan dengan kinerja pelayanan publik.

Beberapa Pendekatan dalam Penelitian Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian

  1. Melalui metode empiris, melalui Studi kualitatif dan Kuantitatif
  2. Metode eksperimental, meskipun akan sulit menggeneralisasi menurut Whitford dan Miller (2002)  
  3. Metode Survei oleh Chin dkk. 2000 dalam organisasi-organisasi politik
  4. Menggunakan studi empiris, simulasi komputer untuk menilai perbedaan taktik manajerial. 
  5. Pemodelan matematika, untuk melihat implikasi dari argumen teoritis atau bahkan untuk menunjukkan validitas logis dari suatu teori (O'Toole dan Meier 1999, March dan Simon 1958)

Catatan
Singkatnya, studi sistematis menyangkut kinerja pelayanan publik tidak akan banyak memiliki kemajuan tanpa peningkatan yang signifikan dalam studi manajemen publik. 
Seperangkat Data Hybrid
Ilmu manajemen publik tidak tersedia data secara luas, sehingga perlu ada data campuran karena:

  • Pemerintah memberikan sumber data tentang indikator kinerja, tetapi sedikit dan tidak ada hubungan dengan ukuran manajemen. 
  • Sumber data dari perangkat struktur organisasi yang tidak terdokumentasikan secara jelas sehingga Data arsip atau perangkat pemerintah tersebut perlu digabung dengan data survei struktur manajemen, kemudian menambah dan menggabungkan variabel-variabel lainnya. 
  • Data-data gabungan tersebut perlu dilengkapi dengan wawancara, kunjungan lapangan dan pengumpulan data melalui metode kualitatif untuk memberikan penjelasan dan menemukan adanya hubungan. 
  • Untuk membangun teori dalam bidang manajemen publik dan kinerja organisasi, dengan data campuran maka perlu dianalisis triangulasi untuk membuat pernyataan kausal yang meyakinkan, untuk menarik kesimpulan dan rekomendasi 

Metode-metode penelitian Manajemen Publik dan Kinerja Keorganisasian
Pada pembahasan ini akan fokus pada tiga item metode, yaitu; kausalitas, non linearitas, dan berbagai masalah yang terkait dengan beberapa tujuan dalam sebuah organisasi, program tunggal, atau jaringan kerja.
Kausalitas. Analisis Kausalitas digunakan untuk mengubah faktor-faktor yang akan meningkatkan kinerja, bukan hanya untuk menjelaskan kinerja.
Suatu perubahan dalam variabel independen secara konsisten akan menghasilkan perubahan berikutnya dalam variabel dependen hanya jika hubungan kausal itu ada.
Non-Linearitas

  1. bentuk fungsional, berupa pertanyaan apakah ada atau tidak ada hubungan antara dua variabel yang dirangkum oleh garis lurus atau dengan perkiraan non linier. 
  2. variabel mungkin berinteraksi satu sama lain dan dalam proses menghasilkan hubungan yang sangat berbeda untuk beberapa organisasi. 
  3. hubungan antara dua variabel mungkin berbeda-beda pada tiap organisasi atau pada organisasi yang sama pada waktu yang berbeda.

Beberapa Tujuan yang Saling Terkait
Tujuan penelitian Mungkin jenis metode yang paling bermanfaat dari penelitian ini adalah bagaimana perubahan kinerja pada program A dibandingkan dengan perubahan kinerja pada program B dan bagaimana rasio ini dapat dijelaskan oleh variabel lain. Jenis analisis program elastisitas pada dasarnya akan menciptakan variabel dependen baru dari tahun ke tahun perubahan dalam berbagai program. Analisis seperti juga bisa menentukan desain sistem di mana program kinerja pada satu tujuan menghasilkan eksternalitas positif untuk tujuan-tujuan yang lainnya.
Desain struktural yang mempengaruhi kinerja,
a. sentralisasi yang bertentangan dengan desentralisasi,
b. produksi bersama,
c. rentang kendali,
d. pencampuran berbagai tipe karyawan,
e. jumlah kantor-kantor lapangan
Struktur program adalah variabel yang hilang dalam studi kinerja organisasi. Aspek ini hanya satu di antara banyak dimensi pada struktur yang mungkin berhubungan dengan kinerja. Provan dan Milward (1995), misalnya, jaringan-jaringan kerja tampil lebih baik ketika mereka mengambil beberapa aspek struktural hirarki yang lebih tradisional.

Kesimpulan
Peneliti peduli akan kinerja, tetapi tidak menjadikannya sekedar pemikiran akan suatu estetika atau intelektual berpikir, akan tetapi karena menyangkut hasil-hasil pelayanan publik dan memiliki nilai-nilai publik.
Sebagai konsekuensinya, bila terfokus pada peningkatan pelayanan publik, maka perlu menangani beberapa metode pertanyaan dari perspektif yang agak terpisah dari ilmu sosial lainnya.
Meningkatkan pelayanan publik berarti meningkatkan nilai-nilai publik, melibatkan perbaikan-perbaikan desain. Sebagai ilmu desain, manajemen publik perlu menerapkan teknik baru yang dikembangkan untuk menentukan bagaimana memperkuat dampak kinerja.
Demikian pula, beberapa perbaikan metodologis dapat mendapatkan pengaruh pada masalah kontingensi dan non linearities yang jelas merupakan bagian penting dari suatu pemecahan masalah.
Metode canggih lainnya juga dapat membawa perbaikan praktis yang memungkinkan kita untuk menilai prospek dan tingkat sebuah tujuan atau, sebaliknya, sinergi dalam berbagai program publik yang lebih kompleks.

 

Kepemimpinan: Kerjasama Regional dan Pemerintah Daerah


Kerjasama regional  "klasik"
Kerjasama Regional  bukanlah hal baru, karena tidak semua pelayanan publik dapat disampaikan oleh satu pemerintah daerah. Banyak bentuk kerjasama regional telah dikembangkan: bentuk ekstrim merger dari pemerintah daerah di satu sisi, dan berbagai bentuk kerjasama di sisi lain dengan kontrak tertentu antara dua pemerintah daerah sebagai bentuk paling sederhana. Pemerintah daerah antara lain akan melahirkan konsorsium atau kebijakan sektor publik yang spesifik, tetapi juga transfer kompetensi tertentu kepada masyarakat lain. Banyak dari kerjasama yang perlu ditemukan oleh pemerintah kota untuk dinegosiasikan dan disepakati, sedangkan yang lainnya diamanatkan oleh tingkat yang lebih tinggi. Kedua aspek, perjanjian dan mandat, juga dapat dianggap sebagai tujuan pada sebuah kontinum. Kemudian dalam bentuk uang ekstra dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi setelah kerjasama kontrak atau tongkat berbentuk tenggat waktu untuk kerja sama (kemudian mereka akan diamanatkan) akan terletak di antara keduanya. Dalam hal tidak ada dasar untuk kerjasama regional ada sama sekali, tingkat yang lebih tinggi dapat mengambil kompetensi dari tingkat lokal dan menyediakan layanan sendiri atau menciptakan kewenangan baru, baik itu otoritas transportasi metropolitan atau daerah air atau papan pembuangan kotoran atau distrik sekolah daerah . Sebenarnya kehadiran kabupaten atau propinsi di banyak negara adalah ekspresi dari transfer kompetensi ke tingkat yang lebih tinggi.
Karena setiap kerja sama regional membutuhkan 'aksi bersama' oleh pelaku yang berbeda, dan negosiasi plus (kontrak) perjanjian tidak selalu memadai untuk kerja sama, setidaknya beberapa jenis dasar umum harus ada atau - jika tidak ada belum - harus didirikan. Model "istituzionale-fiduciario" (Longo 2005, hal 139) sangat membantu untuk memahami situasi: kepercayaan dasar ini memungkinkan Anda untuk diri Anda melakukan dengan positif aturan tentang 'gayung bersambut': Saya memberikan sesuatu, jika saya mendapatkan sesuatu kembali, maka aku akan memberikannya lagi  merupakan tindakan bersama memiliki makna bahwa semua yang terlibat dapat memahami, nilai-nilai yang dijiwai menjadi kerja sama dan dilembagakan dengan "munculnya identitas organisasi" (Stacey 2004, hal. 319).
Ada masalah perbedaan pemerintahan yang melekat pada jenis kerjasama 'klasik'. Demokrasi-defisit mungkin adalah masalah yang paling parah. Sedangkan demokrasi lokal dapat dan adalah hidup sebagian besar kali, demokrasi adalah daerah (setidaknya secara psikologis) jauh dari warga, bahkan mungkin telah didelegasikan kepada para politisi lokal yang pada saat yang sama melayani di dewan atau dewan pemerintahan daerah. Pada bilik suara warga lupa bahwa mereka juga dapat memilih wakil mereka di pemerintah daerah, dan lokal / regional politisi akan memberikan prioritas kepada konstituen lokal mereka dan melupakan kerja sama regional.
Dalam bentuk klasik kerjasama regional batas yang jelas - ini adalah sekitar wilayah gabungan kotamadya. Hal ini menimbulkan masalah, namun. Mereka hasil dari kebutuhan teritorial yang berbeda dari layanan yang berbeda: pasokan air memiliki dasar teritorial yang berbeda sebagai pembuangan air pembuangan kotoran. Sekolah kabupaten bervariasi untuk sekolah dasar dan sekolah kejuruan. Gagasan "fungsional, yurisdiksi yang tumpang tindih dan bersaing" dari ekonom Swiss Bruno Frey dan Reiner Eichenberger (Frey / Eichenberger 1999) seharusnya untuk memungkinkan lapisan teritorial yang berbeda yang cocok dengan urgensi sektor kebijakan yang spesifik dan pada saat yang sama memecahkan masalah demokrasi dengan langsung hubungan antara warga negara dan yurisdiksi tersebut. Diskusi yang sedang berlangsung terutama di Swiss telah menyebabkan beberapa perkiraan untuk ide ini.

Tipe Baru bentuk Kerjasama
Sampai sekarang, masih ada aggapan bahwa kerjasama regional hanya sebatas urusan publik - kerjasama entitas publik. Kebanyakan telah mempromosikan solusi hukum kerjasama antara lembaga-lembaga publik saja. Baru-baru ini jenis kerjasama regional telah muncul - dengan aktor lebih banyak dan beragam: keterlibatan sektor swasta, LSM atau bahkan individu, pemerintahan tingkat yang lebih tinggi mungkin terlibat di luar pengawasan dan mengontrol fungsi-fungsi mereka dalam kaitannya dengan dunia lokal. Perkembangan ini bahkan melintasi perbatasan, sebagai tipe lain dari kerjasama.
Kadang-kadang perkembangan ini dipercepat oleh kebijakan regional Uni Eropa terutama di negara-negara yang baru saja menjadi anggota. Pada tahun 2005 dan 2006 sebuah proyek penelitian yang didanai oleh Böckler Hans Jerman Stiftung telah melihat lebih dekat pada bentuk-bentuk baru dari kerjasama daerah  .
Perkembangan yang berkaitan dengan banyak ragamnya tujuan-tujuan:
Tujuan ekonomi yang melimpah  Dalam hal pemerintah daerah tidak melihat kesempatan untuk bermain di tingkat ekonomi dunia, mereka bisa mencoba untuk bermain di tingkat dunia dan memperoleh atribut kritis, magnet dan lem, bekerja sama dengan kota-kota lain, bisnis , lembaga pendidikan tinggi dan mungkin tingkat lebih tinggi dari pemerintah (Plamper 1996, hal. 332). "Magnet adalah lembaga utama yang menarik anggota potensial bagi kelas dunia ke tempat tertentu" - "Social Glue mencakup kualitas industri antar-tindakan dan kualitas hidup yang menahan mereka" (Moss Kanter 1995, hal 357.). Meskipun prevalensi tren globalisasi, ekonomi nasional "Amerika Serikat didukung oleh 'Kawasan Ekonomi Lokal'" (Barnes / Ledebur 1994, hal. Iii). Ada banyak alasan untuk berasumsi bahwa ada wilayah ekonomi lokal tidak hanya di Amerika Serikat, tetapi membentuk dasar terpisah dari ekonomi Eropa.
Dalam konteks Uni Eropa pentingnya tujuan lain adalah untuk memperoleh: bantuan / subsidi oleh Uni Eropa mungkin dikombinasikan dengan hibah yang cocok dibatasi oleh pemerintah nasional untuk pengaturan koperasi pada tingkat antar-lokal atau regional (Lehner 2006; Petzold 2006; Pieper 2006; Tömmel 2006). Akan tetapi kerjasama yang ditimbulkan, meskipun memiliki tujuan yang jelas pengaturan ini mungkin rapuh untuk tetap menjaga stabilitas dan kerjasama dapat berhenti setelah dana memiliki berakhir
Tujuan lain mungkin berhubungan dengan pengembangan modal sosial dan masyarakat sipil atau untuk perencanaan tata ruang.
Berbeda dengan bentuk klasik dari kerjasama regional, batas ini lebih luas. Hal ini disebabkan orang-aktor fungsional yang mengikuti bukan jalan teritorial yang berkaitan dengan kerja sama regional. Politisi ingin membahas tema lainnya dari perspektif teritorial, sedangkan perusahaan biasanya membahas tanpa pertimbangan teritorial. (Fürst 2006, hal. 53)
Kerjasama regional hari ini jauh lebih dari sekedar kerja sama dari kota untuk mencapai efisiensi dan efektivitas dalam cara yang lebih baik. Selain itu, kerjasama tersebut terdiri dari perusahaan, LSM dan juga individu dan badan-badan pemerintah lainnya dan juga berbagai tingkat pemerintah. Aktor yang beragam dalam suatu  komunitas yang berbeda dapat bekerja sama. Alih-alih negosiasi, untuk mencapai kesepakatan dan bahkan menandatangani kontrak, mereka lebih mengikuti model 'istituzionale-fiduciario', lebih mudah untuk memperolehnya, tapi kerjasama kadang lebih rapuh. Jumlah kerja sama, struktur, stabilitas (siklus hidup), hukum, legitimasi demokratis dan namun hasil dicapai (dibandingkan dengan idealnya) sangat bervariasi.

 

Apakah Manusia itu?


Pertanyaan apakah manusia itu? selalu diajukan meski belum pernah memperoleh jawaban sempurna dan dapat memuaskan. Jawaban tentang apakah manusia itu selalu benar berdasarkan persfektif yang berbeda. Hampir semua cabang ilmu selalu mengikutkan pertanyaan tersebut dan bahkan sebahagian menyebutkannya bahwa esensi dari pengembangan pengetahuan terstentu mengarah kepada upaya untuk mengungkap keberadaan manusia. Pembicaraan manusia tidak pernah ada habisnya, karena manusia selalu membicarakan dirinya sendiri. Argumen-argumen dalam berusaha memahami hakikat manusia sendiri selalu beragam. Secara umum memiliki 3 pendekatan menurut Kattsoff yaitu (1) pemaknaan manusia dengan meneliti persamaan karakter manusia dengan karakter lainnya, (2) Pemaknaan manusia berdasarkan persfektif bahasa yang bersesuaian dengan maksud kalimat yang mengikutinya dan (3) Meneliti apa yang telah dilakukan manusia kemudia menyimpulkan hakikat manusia berdasarkan apa yang telah dihasikannya. Ketiga metode ini sesungguhnya berupaya untuk mengungkapkan jatidiri manusia. Metode pertama dan metode kedua sebenarnya terdapat kemiripan dalam mendeskripsikan apakah yang disebut manusia di mana pada kedua metode tersebut berusaha mengungkap manusia berdasarkan penggunaan istilah “manusia” berdasarkan persamaam karakteristik yang dimiliki dan disimpulkan dengan menggunakan bahasa yang dapat mempertegas karasteristik yang dimaksud. Sementara metode ketiga menggunakan penelitian terhadap apa yang dilahirkan oleh karakteristik tersebut untuk kemudian menyimpulkan berdasarkan apa yang telah dihasilkannya.
Dari ketiga metode ini sebenarnya telah melahirkan banyak definisi tentang manusia seperti “manusia dan  binatang kedua-duanya persis sama” Manusia adalah sebuah mesin yang diberi makan danmenghasilkna pikiran” dan “Manusia yang mulia merupakan sekedar penciptaan Tuhan”.
Dari keseluruhan simpulan-simpulan tentang manusia tentu tidak dapat memuaskan rasa ingin tahu manusia itu sendiri. Akan tetapi menurut Kattsoff bahwa pernyataan atau simpulan tentang manusia dapat saja diterima sepanjang memenuhi minimal tiga kriteria yaitu:
1. Jawaban itu runtut yang berarti tidak menimbulkan pertentangan  di dalam dirinya sendiri,
2. Jawaban itu sesuai dengan bahan bukti artinya dapat dikukuhkan oleh bahan-bahan yang menopang
3. Jawaban itu koheren dengan keyakinan kita dengan yanglainnya cocok dengan pandangan umum tanpa menimbulkan kontradiksi.

 

Ciri-Ciri Berpikir Filosofis



Ciri-ciri berpikir filosofis kadang menjadi pertanyaan serius dalam kajian filsafat ilmu. Benarkah semua orang yang berpikir itu sedang berfilsafat? Pertanyaan ini terkadang menjadi pertanyaan sederhana berkaitan dengan pembahasan tentang filsafat. Apakah benar Semua orang berfilsafat, karena semua orang memiliki potensi untuk berpikir. Dalam Kajian Prof. Dr. H. Andi Makkulau, M.Si, diuraikan beberapa ciri berpikir yang termasuk dalam kategori berpikir filsafat.

Ciri berpikir filosofis di antaranya adalah Membangun bagan kosepsional, Salah satu cara untuk mengurangi inkoherensi adalah mengusahakan membangun bagan konseptual. Gagasan harus berhubungan dengan lainnya secara logis, formal dan ketat, setiap bagian harus mengalir lancer, dari bagaian yang mendahului ke bagian sesudahnya. Agar arus informasi dan pemikiran terus mengalir, kiranya peerlu memikirkan bahwa setiap gagasan harus mengandung sebuah subyek dan predikat. Jadi untuk mempertahankan agar arus informasi secara terus menerus, maka harus menyusun gagasan dengan satu diantara berbagai bentuk.

Ciri lain adalah bahwa alam berpikir filsafat harus menanmpakkan cara Berpikir secara holisitk, Keutamaan yang diinginkan dalam berpikir filsafat adalah berpikir secara holistic. Gagasan yang menyeluruh  mengemas banyak informasi dalam ruang yang terbatas. Selayaknya menghindari keinginan yang berlebihan mencapai holistic, sehingga merusak perkembangan inti esei, yang mungkin perlu diperjelas dan dibuat lebih meyakinkan.

Berpikir filosofis juga harus bersifat Tuntas, Ketuntasan sebuah argument bergantung pada seleksi yang hati-hati dan penggunaan kata yang tepat. Pemikiran kritis bergantung pada konsistensi organisasi bahasa (kata, paragraf, kalimat) sedalam diskursus yang tertib dan dapat dimengerti. Harus berhati-hati dengan berbagai penggunaan kata yang berbeda, ragam makna dan kekaburan arti. Hendaknya menghindari penggunaan metafora/analogi, dan mencoba menghindari jargon yang dapat dijelaskan.
Apakah benar Semua orang berfilsafat, karena semua orang memiliki potensi untuk berpikir. Dalam Kajian ciri berpikir yang termasuk dalam kategori berpikir filsafat diantaranya adalah berpikir dengan Membangun bagan kosepsional, Berpikir secara holistik, Berpikir Tuntas, Konsisten dan Koheren
Sifat berpikir filososfis lain adalan berpikir Konsisten, dalam proses penyusunan esei, kita akan membuat sejumlah pertanyaan yang mencakup banyak segi yang berbeda mengenai pokok persoalan diangkat. Kita harus berhati-hati, apa yang dibahas tidak boleh bertentangan dengan apa yang diungkap. Konsistensi merupakan sifat yang harus dirangkaikan dalam berbagai argumentaasi. Karena kadang-kadang pertanyaan yang kompleks dapat mengandung inkonsistensi internal.

Selain berciri konsisten dalam berpikir filsafat juga harus tetap mempertahankan sifat Koheren, Suatu argumentasi atau pernyataan abstrak dan kongkret yang tidak didukung empirisme dapat menjadi tidak koheren ketika dalam keseluruhan argumentasi tidak memiliki arti. Seprti ketika kita memakai sebuah istilah, nilai koherensi akan timbul dari berbagai esei yang tidak menyatu bersama dalam keseluruhan yang koheren. Kemudian Inkoherensi dapat terjadi ketika sebuah argumentasi ysng bermakna ditempatkan dalam konteks yang tidak semestinya. Keseluruhan esei adalah tidak koheren, sejauh masih dipengaruhi oleh berbagai komponen yang tidak koheren.

 
 
Support : Creating Website | Jay Template | uak sena
Copyright © 2011. Administrasi Publik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger